Selasa, 27 Juli 2010

laporan feati 2009

LAPORAN KEGIATAN UNIT PENGELOLA FMA DESA WONOSARI
KECAMATAN BAWANG KABUPATEN BATANG


KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kita kepada tuhan UP FMA Desa Wonosari kecamatan bawang Kabupaten batang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan pembelajaran FMA tahun 2009 seperti yang tertuang dalam proposal yang berjudul “AGRIBISNIS AYAM HIBRIDA”.
Pembelajaran Agribisnis Didesa Wonosari didukung dengan 4 kegiatan pembelajaran yaitu:
1. Demplot ayam hibrida
2. Pelatihan penetasan dan pembuatan ransum
3. Magang agribisnis ayam hibrida
4. Pemanfaatan limbah kotoran ayam go organik
Pembelajaran agribisnis tersebut menggunakan dana P3TIP sebanyak 23.017.500dan dengan kesadaran tinnggi maka kegiatan tersebut didukung pula dengan dana swadaya dari peserta sebesar…………..sehingga berjumlah…………………
Berikut ini laporan rinci perkegiatan hasil pembelajaran,dan di lengkapi dengan bukti pelaksanaan pembelajaran,untuk menjadikan periksa bagi pihak yang berkepentingan dan agar mudah diikuti dan ditindak lanjuti.
Atas dukungan semua pihak kami mengucapkan banyak terima kasih.


Wonosari…………..2010
Ketua Up Fma
Desa Wonosari



BASUKI


DAFTAR ISI
Kata pengantar…………………………………
Daftar isi………………………………………..
Pendahuluan……………………………………
Laporan kegiatan pelatihan agribisnis ayam hibrida …………………………………………
Lampiran………………………………………… I
II
III

1
10




PENDAHULUAN
Sejak ditetapkamya desa wonosari sebagai pelaksana FMA, program FEATI Kabupaten Batang, mak kini telah berlangsung hingga tahun ketiga, dengan demikian desa wonosari telah berpengalaman untuk melaksanakan pembelajaran dari, oleh dan untuk petani (FMA) sebanyak dua kali.
Sungguh satu hal yang patut disukuri petani didesa Wonosaridapat memulai pembelajaran agribisnis seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah, dalam rangka berusaha tani (better farming) meningkatkan pendapatan petani melalui bisnis (better bussines) dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
pada tahun anggaran 2009 ini desaWonosari telah belajar agribis peternakan ayam hibrida yang ditempuh dengan belajar beragrobisnis dalam kelompok belajar, untuk mencukupi produk/komoditas yang dibutuhkan oleh pasar.pembelajaran agribisnis desa WonosAri tahun 2009, didukung dengan berbagai macam kegiatan pembelajaran yaitu: 1. Demplot ayam hibrida 2. pelat
atas persetujuan proposal UP FMA desa Wonosari pembelajaran agribis tersebut didukung dengan dana P3TIP sebanyak Rp…………, dan selain itu didukung pula dengan dana swadaya dari peserta sebesar Rp….., sehingga berjumlah Rp…….., berikut ini adalah laporan hasil pembelajaran, yang dirinci perkegiatan ,agar mudah diikuti dan ditindaklanjuti oleh peserta pembelajaran FMA tahun 2009, maupun dukungan dari semua pihak.

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN FMA
DESA WONOSARI KECAMATAN BAWANG KABUPATEN BATANG TAHUN 2009

UNIT PENGELOLA FMA
DESA : WONOSARI
KECAMATAN : BAWANG
KABUPATEN : BATANG

A. KEGIATAN
1. Nama kegiatan : PELATIHAN AGRIBISNIS AYAM HIBRIDA
2. Tujuan kegiatan : Melatih para peternak ayam dalam mengelola usaha
ayam hibrida secara lebih efektif terutama dalam bidang
a. Perkembangbiakan ayam hibrida
b. penetasan telur
c. pemeliharaan DOC( anakan ayam hibrida )
d. Obat dan vaksinasi bagi ayam hibrida
e. Pembuatan Ransum /Pakan Ayam
f. Pemeliharaan Ayam Hibrida
g. pemanfaatan limbah ternak ayam

3. Alasan pelaksanaan kegiatan :
ayam kampung yang selama ini di pelihara oleh para peternak tidak menjanjikan hasilnya, umur ayam kampung yang panjang, ayam hibrida rasa daging dan bentuknya sama dengan ayam jawa. Menjadikan alasan para peternak berpindah , dari ayam kampung biasa ke ayam kampung hiberida , karena ayam hibrida bisa menjadi subtitusi ayam kampung. Itulah alasan kegiatan tsb diatas, ditambah dengan banyaknya sumber daya alam yang cukup melimpah.
4. Waktu pelaksanaan : tanggal 22 desember 2009 s/d 20 mei 2010

JADWAL HARI KEGIATAN PELATIHAN AGRIBISNIS AYAM HIBRIDA
UNIT PENGELOLA FMA DESA WONOSARI KECAMATAN BAWANG

1. Rapat pengelola dan panitia kegiatan
Hari/ Tanggal : Selasa 01Des 09
Waktu : Jam 08-30 s/d 13-00
Tempat : Sekretariat UP FMA Ds Wonosari
Penanggung Jawab : Nikmaropik PPS
2. Persiapan
Hari/ Tanggal : Kamis, 03 Desember 2009
Waktu : Jam 08-30 s/d 13-00
Tempat : Sekretariat UP FMA Ds Wonosari
Penanggung Jawab : Basuki Ketua UP FMA
3. Pembuatan kandang ayam
Hari/ Tanggal : Sabtu- minggu, 5-6 Desember 2009
Waktu : Jam 08-30 s/d Selesai
Tempat : Lokasi kandang Di Dk Banjarwaru
Ds Wonosari
Penanggung Jawab : Yahya
di UP FMA
4. demplot ayam hibrida ( pertemuan awal)
Hari/ Tanggal : Senin 07 desember senin 22, pebruari 2010
Waktu : Jam 08-30 s/d 15-00
Tempat : Madin Dk Banjarwaru Ds Wonosari
Penanggung Jawab : Basuki Ketua UP FMA
5. magang agribisnis ayam hibrida
Hari/ Tangga : Senin, Selasa,rabu 18,19,20 januari 2010
Waktu : Jam 08-30 s/d 15-00
Tempat : Sukoharjo
Penanggung jawab : Basuki Ketua UP FMA
6. pelatihan kewira usahaan dan temu usaha
Hari/ Tanggal : Senin, Selasa, 25-26 januari 2010
Waktu : Jam 08-30 s/d 15-00
Tempat : Balai Desa Wonosari
Penanggung jawab : Basuki Ketua UP FMA
7. pelatihan pembuatan ransum/pakan ayam dan pemanfaatan limbah
JADWAL KEGIATAN DEMPLOT AYAM HIBRIDA
8.
NO HARI, TGL, JAM KEGIATAN/MATERI PETUGAS
1 Senin 15 desember 2009 Pertemuan pertama
08.00-08.30 Registrasi peserta Panitia
08.30-10.00 Pembukaan
a. laporan ketua panitia Basuki
b. Sambutan Camat Bawang Sempu hanggojali
c. sambutan pihak BPTP Sischa
10.00-10.30 Peninjauan kandang BPTP & panitia
10.30-12.00 Penjelasan ayam hibrida BPTP
12.00-12.30 ISOMA Panitia
12.30-14.00 Diskusi,tanya jawab Panitia,BPTP,PPL
14,00-15.00 Kelayakan usaha, analisis usaha PPS, PPL
2 Kamis 22 jan 2010 Pertemuan tahap kedua
08.00-08.30 Registrasi peserta Panitia
08.30-09.30 Peninjauan lapang Panitia&BPTP
09.30-10.30 Tanggapan peserta BPTP
10.30-1200 Teknik budidaya BPTP
12.00-12.30 ISOMA Panitia
12.30-14.00 Tanya jawab Sugianto SP
14.00-15.00 Kesan pesan & kelayakan usaha Sakijan SP
3 Senin 22 peb 2010 FFD
08.00-08.30 Registrasi peserta Panitia
08.30-10.00 Kunjungan lapang (panen) Panitia
10.00-10.30 Kesan peserta demplot Peserta
10.30-12.00 Pengenalan pasar BPTP
Pengukuhan kemitraan Maptukha&kunariah
12,00-12.30 ISOMA
12.30-14.00 Diskusi, RTL, tanya jawab BPTP,PPL,PPS
14.00-15,00 Penutupan
a. Panitia Basuki
b. BPTP BPTP
c. Kepala Desa Rabun
d. Koord BP3K Sakijan SP

5. Peserta kegiatan : 30 orang, terdiri dari
 Jumlah peserta anggota kelompok :
o Laki-laki : 20 orang
o Perempuan : 10 orang
o Daftar peserta : Terlampir
6. Pemandu kegiatan :
a. Praktisi : Ismi Musyawati
: Suyudi SP peternakan
: Prajinto
: Dalmadi
: Yuni yermawati
: Sucipto Sos
:

b. BPTP : ir. Muryanto Msi
: Sisca serly Msi
c. Dinas : Sakijan. Sp (BP3K)
: Prajinto (dinas pelayanan koperasi batang)
d. Penyuluh swadaya : Nikmaropik
: Trikurnia wati
e. Penyuluh pertanian : Kadaryono Spi
f. Pengamat penyakit : Slamet Hasanudin
g. Peneliti : Ir.Yuni Yermawati
: Ir. Dian



7. Sumber dana kegiatan pembelajaran :
o IN-KIND
Masyarakat dukuh Banjarwaru : Ruang pelatihan dan perlenkapanya
o IN-KIND
Perpustakaan Taruna Tani Dk Banjarwaru : penggalian informasi kegiatan
o IN-CASH
Peternakan ayam Dk banjarwaru : 5 Ayam Ras petelur alat-alat vaksinasi ayam dan sebagian obat
o Dinas /instansi terkait ;
• BPPPK kecamatan Bawang
• Kantor Kecamatan Bawang
• BPPPPK Kabupaten Batang
• Kantor koperasi batang
8. Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Perencanaan
2. Identifikasi kebutuhan pasar
3. Analisis permintaan dan ketersediaan produk yang ada dipasar
4. Analisis skala usaha sesuai dengan permintaan pasar
5. PRA
6. Menyusun rencana kegiatan belajar/ usaha kelompok
7. Penyusunan programa penyuluhan desa
8. Penyusunan proposal pembelajara
9. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran
10. Monitoring dan evaluasi
11. pelaporan
9. Pembagian tugas dalam pelaksanaan pembelajaran
 Perencanaan : Slamet Hasanudin
 Persiapan : Yahya
 Pelaksanaan : A. Labib
 Monitoring dan evaluasi : Nikmaropik
10. Sarana dan prasaranapendukung kegiatan:
1. Kandang ayam hibrida ( pembesaran )
2. Mesin penetas telur
3. Kandang baterai (indukan ayam hibrida)
4. Ayam petelur
5. Atk
6. Tempat pembelajaran
7. Alat-alat praktek
11. Pedoman yang digunakan dalam kegiatan :
1. Modul dari fasilitator dan pengalaman lapang faslitator (terlampir)
2. Buku-buku panduan
3. Internet
4. Hasil uji kelompok
12. Ciri-ciri/indikator keberhasilan kegiatan pembelajaran
 Perubahan perilaku peserta
Setelah kegiatan pembelajaran selesai banyak sekali perubahan perilaku peserta diantaranya:
1. Mau memanfaatkan lingkungan yang kosong
2. Lebih giat bekerja
3. Dalam mengsikapi masalah lebih terbuka pada temanya
4. Terjadinya komunikasi antar mantan peserta
5. Dan lain sebagainya
6. Kelompok menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap kegiatan
 Perubahan fisik komuditas yang dipelajari
Perubahan fisik pada komuditas yang dipelajari adalah
a. Ayam kampong yang cepat besar
b. Umur ayam yang relative singkat masa panenya ±70 hari
c. Pola budidaya yang lebih baik
d. Ayam dipelihara secara benar
 Perhitungan keuntungan agribisnis (terlampir)
 Dampak orang-orang yang mengikuti
Sebagian besar orang yang mengikuti kegiatan pembelajaran akan meneruskan usaha dalam bidang agribis ayam hibrida karena setelah mereka menghitung-hitung adanya kenaikan pendapatan dari usaha ayam hibrida.
 Terjadinya transaksi penawaran hasil
Setelah adanya pembelajaran agribis ayam hibrida telah terjadi penawaran hasil dari para mitra yang akan bekerja sama (terlampir)
 Terjadinya rintisan penambahan modal
Dari kegiatan yang telah dilaksanakan, telah terjadi rintisan modal dalam mengembangkan usaha dibidang agribis ayam hibrida, itu terlihat dari sebagian peserta sudah banyak yang mengajukan kredit pada UPG (Unit Permodalan Gapoktan) sari asih
 Terjadinya kemitraan usaha (telampir)
Dalam perjalananya telah ada /terjadi jalinan kerjasama (kemitraan antara pelaku utama dan pelaku usaha.yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
13. Biaya yang dipergunakan

1. Biaya dari P3TIP/FMA :……………
2. Biaya dari swadaya peserta : …………..
3. Biaya dari sunber lain :…
4. Rab masing-masing : terlampir
5. Anggaran FEATI Rp…………….
- Penggunaan Rp…………..
- Pembelajaran Rp………….?terinci honor
- Perjalanan Rp………..
- Bahan Rp……….
- konsumsiRp…….
- Sisa dikas up Fma

14. Monitoring dan evaluasi
 Pelaku : Nikmaropik
: Kadaryono Spi
 Cara : dalam pelaksanaan monitoring dilakukan dangan
berbagai cara dan dilaksanakan pada waktu kegiatan dan setelah kegiatan
 Hasil yag dimonitoring (terlampir)






Hasil Monitoring
KEGIATAN INDICATOR RENCANA REALISASI PENYIMPANGAN PERBAIKAN YANG
DIPERLUKAN
Pelatihan agribis ayam hibrida Waktu pembelajaran/ pertemuan 3 bulan Terealisasi ada perubahan jadwal Tidak ada penyimpangan Waktu pembelajaran diperpanjang.
Cara praktek Penggunaan tecknologi IB, mesin tetas, kandang baterai, kandang umbaran terbatas. Menggunakan mesin tetas sederhana, kandang sederhana, penggunaan IB, kandang umbaran, kandang baterai. Lampu sering padam karena daerah pegunungan, jumlah DOC yang dipelihara terlalu banyak. Modivikasi mesin tetas otomatis, kandang umbaran harus lebih lebar sesuai standar.
Hasil pelatihan Telur menetas 85%, demplot 100 DOC, membuat pakan sendiri Telur menetas 70%, demplot 500 ekor (DOC) membuat pakan sendiri Gangguan pada listrik. Telur tetas produksi sendiri dalam jumlah banyak
Diterima pasar /terjual 100% diterima pasar, 70% diterima pasar luar kecamatan, 30% diterima pasar kecamatan Tidak ada Pasar diperlebar.


15. Tindak lanjut setelah selesai pembelajaran
• Adanya (terbentuknya kelompok peternak ayam hibrida taruna tani Banjarwaru desa Wonosari)
Setelah pembelajaran selesai semua peserta membuat sebuah kelompok
AGRIBIS AYAM HIBRIDA BANJARWARU DESA WONOSARI
Dengan susunan pengurus sebagai berikut
• Adanya usaha bersama agribisnis ayam hibrida
• Penyediaan informasi bagi petani tentang ayam hibrida


16. Pengesahan
Desa/tanggal/nama ketua/tanda tangan/nama tpl
17. Lampiran






 Biodata peserta
No Nama Alamat Tempat tanggal lahir Pekerjaan Tlp
1 Musayafak Banjarwaru petani
2 khumaidi Banjarwaru Batang 19 Sept 1979 Guru 081326663361
3 Yahya Banjarwaru Batang 26 mei 1977 Petani 081391777934
4 Romadlon Banjarwaru Petani 085325062684
5 Basuki Banjarwaru Batang 05 ags t 1953 Perangkat desa 081326490615
6 Khurotul aien Banjarwaru Batang 02 nof 1984 Mahasiswa 081901143139
7 Mukhlis Banjarwaru Peternak ayam
8 Munajad Banjarwaru Batang 21 juni 1986 Peternak ayam 081385621490
9 Mudrikah Banjarwaru Pengrajin emping 087871947436
10 Nimaropik Banjarwaru Batang 18 mei 1980 Peternak ayam 081391824231
11 Sarip Banjarwaru Batang 25 juli 1978 Swasta 087830592248
12 Abdul aziz Banjarwaru Pedagang 085285552929
13 Rantiyah Banjarwaru Pedagang
14 Mastoni Banjarwaru Pelajar 085727020993
15 Khoirunikmah Banjarwaru Santri
16 Mahzum Banjarwaru Pedagang saprodi 081391777997
17 Slamet. H Banjarwaru Batang 26 juli 1978 Peternak ayam 085310722222
18 Maskur Banjarwaru Mahasiswa
19 Rebut w Banjarwaru Mahasiswa 087830994230
20
21 Mahmudi Banjarwaru Peternak bebek 081281567751
22 Subhan Banjarwaru Batang Karyawan ternak
23 Jamhari Banjarwaru Guru 081325186680
24 Faizun Banjarwaru Mahasiswa 085226140170
25 Akhmad labib Banjarwaru Guru 081229347799
26 Akhmad Kabul Banjarwaru Peternak ayam 087770054947
27 Zaini Banjarwaru Batang 25 Oktober 1985 Peternak kelinci 085286904000
28 Nurhadi Banjarwaru Pengangguran 087832440487
29 M. adib Banjarwaru Peternak ayam 085226888820
30 Nasihin Banjarwaru Batang 19 juni 1977 Petani 085226542037
31 M. khairul Banjarwaru Petani
32 Anwaropik Banjarwaru Peternak ayam 087830974393
33 Listianatul .m Banjarwaru Pengrajin emping
34 Qodriyqh Banjarwaru Pengrajin emping
35 Siti muawanah Banjarwaru Pengrajin emping
36 Setio budi Banjarwaru 12 September 1981 Perangkat desa 085226565558
37 Mukhlisun Banjarwaru Guru 085226947471

 Absensi
 Foto
 Biodata fasilitator
No Nama Alamat Tempat tanggal lahir Pekerjaan Tlp
1 Kadaryono SP.i Kendal - PPL 081325429037
2 Sakijan SP Bawang Kord ppl 081328077321
3 Sutoyo SP Jlamprang PPL 081325302299
4 Ismi musawati Ungaran Praktisi 081391848345
5 Prajinto So.s Batang Ahli





Lampiran Petunjuk tecnis pembelajaran
TEKNIK BUDIDAYA AYAM HIBRIDA

I. LANGKAH-LANGKAH YANG PERLU DI SIAPKAN SEBELUM DOC DATANG
A. PERSIAPAN BOX

1. Ukuran box 2m x2m kapasitas maksimal 400c.
2. Kedalaman box 40 cm, tujuannya :
a. Panas bisa maksimal
b. Memudahkan dalam setiap perlakuan.
3. Bahan box :
a. Paling bagus dari seng untuk bagian dindingnya karena bisa
memantulkan panas lebih maksimal.
b. Dasar box dari papan selain kuat mudah di bersihkan.
c. Tutup box bisa dari kardus di double jaring-jaring bambu sesuai
ukuran, lebar dan panjang box. Tujuannya siang hari ayam butuh sirkulasi udara.
4. Kebutuhan lampu di sesuaikan lingkungan, cuaca dan kondisi ayam.

KETERANGAN:
Lampu di hidupkan 1 jam sebelum doc datang sehingga kandang sudah hangat.
Selama 7 hari lampu di nyalakan 24 jam. Pada hari-hari selanjutnya lampu
dinyalakan di sesuaikan dengan keadaan cuaca.

B. TANDA –TANDA AYAM HARUS TURUN TURUN DARI BOX

1 Bau amoniak dari kotoran sudah menyengat.
2 Anak ayam sudah berdesak –desakan.
3 Kondisi ayam sudah siap –siap lepas dari pemanas.
4 Biasanya selelah Vaksin ke 2 ± umur 12 hari ayam siap turun dari Box.

KETERANGAN
1. JIKA AYAM KEPANASAN ( megap – megap ) tindakan yang di perlukan
Buka sebagiaan pintu Box dan Mengurangi jumlah lampu
2.JIKA AYAM KEDINGINAN
Ciri –ciri : Ayam Bergerombol, Bulu layu / kusam,tidak mau makan
Tindakan yang diperlukan :
o Tambah Jumlah Lampu
o Box ditutup Rapat

II. PERSIAPAN KANDANG BAWAH ( LITTER )

1. Lantai dari Semen kasar/juga bisa dengan system panggung dengan bambu
seperti yang ada di Dukuh Banjarwaru
2. Sekam disebar tipis , perlu diperhatikan
a. Jangan sampai sekam basah dan bau
b. Jika sekam sudah Bau segera di tambah sekam Baru
INGAT : Jangan mengangkat sekam sebelum ayam di panen

3. Dinding kandang terbuat dari bahan bambu dirangkai Tujuaan : Akan
diperoleh sirkulasi udara yang baik
4.Tempat pakan Gantung yang di butuhkan dan ketinggian mengantung,
disesuaikan umur ayam
5.Penggunaan lampu mulai dihentikan.
6.Tempat minum pakai Gallon 7 liter.dibersihkan 2 X sehari, pagi dan sore

III. MASA PANEN

 Usai panen umur 60 -70 hari
 Berat laku minimal 8 ons – 1,2 Kg
 Ayam dijual ekoran atau Kiloan ( harga menyesuaikan pasar )
 Kebutuhan pakan per 100 ekor, 3 – 4 Zak (@50 kg)

KEBUTUHAN TEMPAT PAKAN 2 TEMPAT MINUM
TIAP 100 EKOR AYAM HIBRIDA
UMUR
( minggu ) TEMPAT PAKAN
TEMPAT
TUJUAAN


1 1 – 3 Hari diatas
Koran
2 buah Literan
Memaksimalkan DOC bisa ikut makan semua
Mengurangi pakan Tumpah Disesuaikan dalam jangkauan makanan Tidak mudah tumpah dipasang sesuai tinggi ayam / menghindari makanan di eker -eker
2 4 – 7 hari pakai Nampan 2 buah Literan
( 1 literan )
3 - 8 ( 3 buah )
Pakai Nampan
( 3 buah )
Pakai gantungan
( 3 bauh ) 2 buah Literan
( 7 Literan )

KETERANAGAN

a. TEMPAT MINUM :
1.Dicuci pagi dan sore ketika mengganti minum
2.Sekam Janagan samapi masuk tempat minum karena ayam bisa mudah
kena penyakait
3. Diletakan lebih tinggi dari dasar lantai
b. TEMPAT PAKAN :
1.Ketinggian beubah-ubah mengikuti tinggi dan umur ayam
2.Kebutuhan pakan di sesuaikan umur,makin besar ayam Makin banyak jumlah pakan yang di berikan.
c. SANITASI DAN ISTIRAHAT KANDANG
a. Setelah ayam di jual ,litter segera di keluarkan dan di jauhkan dari Kandang
atau di bakar.
b. Dinding dan lantai kandang di sikat dan di cuci dengan air sabun kemudian Di semprot dengan air hingga bersih
c. Setelah pembersihan dan pencucian kandang kemudian di lakukan Pengapuran dinding dan lantai kandang.
d. Semprot kandang dengan menggunakan FORMADES.
Dosisnya adalah 12 ml FORMADES di campur dengan 2,5 liter air, Disemprotkan keseluruh bagian kandang.Bila kandang yang bersangkutan
e. Bekas menampung ayam yang terserang penyakit atau ada wabah,dosis FORMADES adalah 10 ml tiap 1 liter air.Untuk 2 liter larutan yang telah di Encerkan,cukup untuk menyemprot kandang seluas 100
f. Masukkan ke dalam kandang ,tempat ransum dan tempat minum yang Sudah Bersih dan kering,untuk ikut di desinfektan
g. Peralatan peternakan ( tempat ransum,tempat minum dll) di cuci sampai bersih, rendam minimal 30 menit dalam MEDISEP 15 ml tiap 10 liter air, dilakukan 4 hari sekali.
h. Majuhkan atau mundurkan jadwal desinfeksi ( pembilasan dengan MEDESEP atau MEDIKLIN) tempat minum ayam jika harinya bertepatan dengan jadwal Vaksinasi.
i. Masa istirahat kandang minimal 2 minggu.

PROGRAM PEMELIHARAAN AYAM HIBRIDA

UMUR
( HARI )
PERLAKUAAN

WAKTU

KET


1  Air minum ( + ) garam sePucuk sendok
 Pakan disebar diatas koran Pagi – pagi

Sepanjang hari Adlibitum
2 - 4 - Air minum ( + VITACHICKS
- Pakan disebar di atas koran
- Air minum putih ( dari sumur )
VAKSIN PERTAMA
Pagi -sore

Sore -pagi
13 – 15


VAKSIN KE DUA
Air minum(+) NEUBRO


Pagi – sore


Adilibitum

16 – 18


Air minum pitih
Pemberiaan pakan mulai
Digantung sesuai tinggi
Ayam
Sore – pagi
Selalu ada



19- 20 Lampu mulai di hentikan
Air minum putih
Air minu putih
Pakan digantung
Pagi – pagi
Pagi – pagi
Sore - pagi slalu ada
1









22 – 24
25 – 27
28 – 30
31
32
33
34-36
37 – 39
40 – 42
43 – 45
46 – 48
49 – 52
53 - 55 VAKSIN KETIGA
- Ayam puasakan minum 4 jam se
Belum divaksin
- Saat pemberiaan Vaksin
Maksimal 2 jam
- Habis Vaksin air minum di cuci
Segera diganti air(+) VITASTRES
Pakan digantung
-Air minum (+) NEUBRO
Air minum putih
- Air minum(+) DOXYVET
- Air minum putih
Air minum putih
Air minum VITASTRES
Air minum putih
- pemberiaan( +)VERMIXON
( obat cacing)
Air minum(+)VITASTRES
Air minum putih
-Air Minum(+) DOXYVET
- Air minu putih
Air minum putih
Air minum(+) NEUBRO
Air minum putih
-Air minum putih
- Air minum TRIMENSYN
- Air minum putih
-Air minum putih
-Air minum(+) NEUBRO
- Air minum putih
Dst SAMPAI PANEN Dilakukan







Pagi – sore
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi –pagi
Pagi sore
Sore – pagi

Pagi –sore
Sore – pagi
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi – sore
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi – pagi
Pagi –sore
Sore – pagi
Pagi – pagi
Pagi – sore
Sore - pagi



Disampaikan oleh suyudi & dalmadi
Dalam pelatihan penetasan telur ayam FMA Desa Wonosari
MENETASKAN TELUR AYAM YANG BERKUALITAS
Penetasan dan menetaskan telur ayam, bebek atau burung puyuh menjadi popular di tingkat peternak kecil dan menengah dan bahkan di tingkat rumah tangga untuk dijadikan jenis petelur atau pedaging atau untuk menghasilkan unggas unggas yang cantik cantik untuk dipelihara sebagai binatang piaraan.
Akan tetapi, para peternak sampai saat ini masih menggantungkan untuk mendapatkan DOC yang ber-kualitas dari hasil persilangan telur telur galur unggul dan murni dari breeder (perusahaan penetasan telur) besar.
Secara teknis, dasar penetasan telur dan mendapatkan telur dari persilangan galur murni adalah tetap sama, baik untuk breeder besar dengan mesin modern yang full-otomatic ataupun dengan menggunakan mesin sederhana di tingkat hobbiest yang diletakkan di dapur rumah sekalipun. Yang membedakan tinggal hanyalah kualitas DOC yang dihasilkan dan pemenuhan kebutuhan DOC yang diperlukan.
Selanjutnya melalui tulisan ini, kami ingin memperkenalkan kepada para “penetas telur” pemula tentang tata cara menetaskan telur menggunakan incubator dan mengoperasikan peralatan tersebut dengan benar untuk menetaskan ayam (atau jenis unggas lainnya). Yang membedakan dalam penetasan jenis jenis unggas adalah lama waktu penetasan dan prosedurnya.
Management Penetasan Telur
Untuk mendapatkan telur telur yang bagus untuk di tetaskan harus di yakini bahwa telut telur tersebut berasal dari induk induk ayam yang memenuhi syarat sebagai induk yang baik seperti:
1. Telah di Vaksinasi secara lengkap
2. Sehat
3. Mempunyai postur dan bentuk badan yang baik
4. Berasal dari galur murni
Pemilihan induk untuk menghasilkan telur tetas tersebut juga harus dijaga kualitas pakan dan pemberian vitamin yang cukup dan mereka disatukan dengan pejantan unggul yang telah diseleksi dengan ketat dan hanya yang berpostus baik serta jumlah yang sesuai dengan perbandingan induk betina yang ada, sangat disarankan agar mendapatkan telur telur fertile (dibuahi sempurna) dengan rasio yang tinggi.
Hal ini penting agar tidak menjadi sia sia bahwa setelah beberapa saat (katakan 5 hari) setelah dimasukkan ke dalam incubator ternyata banyak yang kosong (tidak dibuahi), maka hal ini akan menjadi kerugian dan buang waktu percuma.
Besar telur dan jumlah telur hasil persilangan / perkawinan tersebut haruslah mempunyai bentuk dan ukuran serta jumlah yang hampir sama agar didapatkan DOC (anak ayam) yang berukuran sama, sehat dan kuat.
Disamping itu, juga disarankan untuk memisahkan atau “membuang” anak ayam yang cacat, kecil atau kelihatan lemah dari sejak awal mereka menetas agar tetap dapat dipertahankan kualitas anak anak ayam yang dipelihara.
Pemilihan ini memeng memerlukan sedikit ketrampilan dan latihan untuk menentukan dan men seleksi anak ayam yang memenuhi criteria yang diharapkan. Sehingga di kemudian hari, bila mereka akan dijadikan induk, mereka dapat dikatakan bagus dan telah lewat seleksi sejak dini.
Seorang peternak yang cakap haruslah tidak memiliki ayam ayam dengan kriteria dibawah ini :
1. Paruh yang bengkok
2. Sayap yang terlipat, miring, turun
3. Kebutaan pada salah satu matanya
4. Kaki yang bengkok atau kecil dan jari jari kaki yang melengkung
5. Atau cacat lainnya yang menyebabkan kesulitan dalam makan, minum atau kawin
Sedangkan syarat yang harus dipenuhi adalah :
1. Ayam jantan harus agresif
2. Tegap dan ber perawakan tinggi
3. Suara yang nyaring, kaki dan jari jari yang lurus sempurna
4. Sedangkan untuk betinanya harus bertelur banyak, bentuk telurnya bagus dan sehat
Selanjutnya untuk di kawinkan maka ada 4 cara yang bisa dipakai yaitu (1) kawin masal (2) kawin dalam kandang kandang kawin (3) kawin yang di pacokkan dan (4) inseminasi buatan.
GloryFarm dalam mendapatkan telur tetas yang unggul menggunakan 2 cara pertama yaitu kawin masal dan kawin dalam kandang kandang kawin. Hal ini dilakukan karena lebih mudah dalam pengaturannya dan lebih sedikit campur tangan manusia dan lebih alami. Cara lain seperti inseminasi buatan memerlukan keahlian dan pengetahuan yang lebih untuk melakukannya.
(1) Kawin “Masal”
berarti mengawinkan beberapa ayam betina dengan beberapa jantan dalam satu kandang yang cukup luas. Cara ini efektif dipergunakan untuk mendapatkan telur tetas dengan tingkat fertilitas yang tinggi. Sebagai perbandingan, 1 ayam pejantan untuk 6 betina sehingga bila dalam 1 kandang ditempatkan 4 ayam jantan maka betinanya dapat diberikan sebanyak 24 ekor.
Dalam beberapa buku, memang dikatakan ayam arab adalah dari jenis yang jago kawin sehingga disebutkan 1 ekor jantan sanggup mengawini 8 – 10 ekor betina. Dalam hal ini, kami tetap memakai perbandingan yang “aman” dengan tingkat fertilitas tinggi sehingga diberikan hanya 6 ekor betina untuk 1 ekor ayam jantan dengan hasil baik.
(2) Kawin dalam kandang kawinan
berarti memberikan hanya 1 ekor ayam jantan dan beberapa ekor betina untuk setiap kandangnya. Biasanya 1 ekor jantan dan 5 ekor betina. Hal ini dimaksudkan agar lebih mudah mengawasi tingkat fertilitas atau kemampuan kawin seekor pejantan. Tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan suatu persilangan yang direncanakan untuk kepentingan pengembangan atau seleksi khusus.
(3) Kawin yang dipacokkan
berarti ayam jantan diletakkan dalam satu kandang khusus, selanjutnya betina yang akan di kawinkan dimasukkan dalam kandang pejantan. Bila pejantan telah mengawini maka sang betina dikeluarkan kembali. Hal ini juga kami lakukan terhadap ayam Bangkok sebab bila dipakai cara ke (2) diatas maka telur yang dihasilkan selalu di makan kembali oleh ayam-ayam tersebut. Sehingga, bila betina Bangkok telah dikawin oleh pejantannya, maka betina tersebut dikembalikan ke kandang batere agar bila bertelur akan aman dari dimakan kembali oleh mereka.
(4) Inseminasi Buatan IB
adalah cara yang biasa dipakai untuk mengawinkan ayam ayam dengan beda umur yang cukup jauh, atau untuk mendapatkan persilangan tertentu karena dalam keadaan normal mereka tidak saling / susah untuk kawin seperti misalkan mengawinkan ayam kate dengan ayam Bangkok. Metode ini tidak atau jarang digunakan karena tidak praktis dan memerlukan peralatan dan keahlian serta pengetahuan khusus.
Di dalam mendapatkan telor tetas, seorang peternak ayam harus juga melengkapi kandang kandang nya dengan sangkar untuk bertelur atau setidaknya bila menggunakan kandang postal maka kandang tersebut harus selalu menggunakan sekam yang cukup ketebalannya dan kebersihannya. Hal ini dimaksudkan agar telur tetas yang dihasilkan akan terjaga kebersihannya dari tanah, kotoran ayam atau malah bibit penyakit menular lainnya. Hal ini kembali kami tekankan untuk selalu menjaga sanitasi kandang yang baik, program vaksinasi dan penyemprotan dengan bahan pembasmi kuman dan bibit penyakit untuk menekan tingkat penyakit yang mungkin ada dan terbawa di kulit telur tetas.
Pemberian vitamin dalam air minum yang bersih dan diganti setidaknya 2 kali sehari, makanan dengan komposisi yang seimbang dalam nutrisi dan jumlahnya juga membantu dalam mendapatkan telur tetas yang ber kualitas.
PEMILIHAN DAN PERAWATAN TELUR
Dalam mengumpulkan telur tetas biasanya peternak mengambilnya sekali setiap hari. Tetapi dalam kasus telur telur tersebut akan ditetaskan untuk menghasilkan anak ayam yang ber kualitas, maka pengambilan telur dapat dilakukan lebih sering. Memang disarankan untuk mengambilnya antara 4 sampai 5 kali sehari. Tapi kami melakukan mengumpulan telur sebanyak 3 kali dalam sehari dan ini kami rasa cukup. Mengingat bila terlalu sering masuk keluar kandang juga dapat menyebabkan ayam ayam tersebut menjadi terganggu / stress.
Pengambilan telur juga dimaksudkan agar telur telur yang didapat lebih bersih dari kotoran ayam dan juga tentunya bibit penyakit yang ada di kandang. Telur telur yang agak kotor sebaiknya di bersihkan dengan lap / kain halus sebisa mungkin tetapi tidak menggunakan air. Bila menggunakan air sekalipun maka disarankan untuk menggunakan sedikit air hangat bersih dan tidak dengan menekan kulit telur. Tetapi hal ini tetap dikawatirkan akan merusak selaput pertahanan alami kulit telur dari bibit penyakit. Karena kuman, bakteri, virus atau bibit penyakit yang mempunyai ukuran sangat kecil itu dapat menembus lapisan berpori pada dinding kulit telur.
Juga tidak disarankan untuk mencampur telur yang kotor tadi dengan telur telur yang bersih agar tidak ada perpindahan bibit penyakit. Terutama bila akan dimasukkan dalam incubator yang sama. Karena kekawatiran yang sama seperti diatas.
Tetaskan telur telur dengan ukuran yang seukuran. Telur telur yang mempunyai ukuran raksasa atau lebih besar dari lainnya atau malah terlalu kecil sebaiknya tidak ikut ditetaskan. Juga tidak di sarankan untuk menetaskan telur telur yang cacat atau abnormal seperti, telur yang mempunyai permukaan kasar sekali, tipis kulitnya, aneh bentuknya atau bentuk bentuk abnormal lainnya. Biasanya telur telur seperti ini tidak akan menetas pada akhirnya atau kalaupun menetas biasanya anak ayam yang ada akan lemah.
Singkirkan juga telur telur yang retak karena kalaupun telur tersebut fertile maka dalam perkembangan nya telur tersebut dapat “meledak” atau bocor dan mengotori telur telur lainnya. Juga karena retakan yang ada maka penguapan yang terjadi tidak berjalan semestinya dan pada akhirnya juga embrio yang ada di dalamnya akan mati. Demikian juga dengan telur telur yang ada udara di dalamnya haruslah juga tidak ikut di tetaskan dalam mesin incubator.
FUMIGASI
Sanitasi atau pembersihan terhadap telur dan peralatan penetasan dapat menggunakan sistim fumigasi. Fumigasi dngan tingkat yang rendah tidak akan membunuh bakteri dan bibit penyakit tetapi fumigasi yang terlalu tinggi dapat mebunuh embrio didalam telur. Maka amatlah di haruskan untuk memakai ukuran yang tepat terhadap bahan kimia yang akan digunakan dalam melakukan fumigasi.
Dalam melakukan fumigasi, sebuah ruangan yang cukup atau lemari yang besar diperlukan untuk menampung semua telur telur yang akan di tetaskan dan ruangan atau tempat tersebut juga dilengkapi dengan kipas angin untuk sirkulasi udara didalamnya.

Susun telur telur yang ada didalam ruangan atau lemari dengan rak rak dari bahan berlubang lubang (seperti kawat nyamuk atau kasa) sehingga udara dapat bergerak bebas diantaranya. Bahan kimia yang biasa dipakai untuk fumigasi adalah gas Formaldehyde yang di hasilkan dari campuran 0.6 gram potassium permanganate (KmnO4) dengan 1.2 cc formalin (37.5 percent formaldehyde) untuk setiap kaki kubik ruangan yang dipakai. Buat campuran bahan bahan tersebut pada tempat terpisah sebanyak setidaknya 10 kali dari volume total ruangan atau lemari.
Sirkulasikan gas tersebut di dalam ruangan atau lemari selama 20 menit dan kemudian keluarkan / buang gas nya. Suhu yang diperlukan selama fumigasi adalah diatas 70oF. Selanjutnya biarkan telur telur tersebut di udara terbuka selama beberapa jam sebelum menempatkannya di dalam mesin incubator.
PENYIMPANAN TELUR TETAS
Hal yang terbaik untuk memperlakukan telur tetas adalah langsung memasukkannya kedalam incubator. Tetapi tentunya cara ini tidaklah mudah dan praktis untuk dilakukan. Hal yang masih baik dilakukan adalah mengumpulkan telur dan menyimpannya untuk hanya beberapa hari saja dan disimpan pada keadaan yang sejuk dan lembab. Keadaan yang sempurna adalah 60oF dan kelembaban udara 75 %. Tetapi tidak dalam lemari es atau tempat lain yang mempunyai suhu dibawah 40oF karena akan menurunkan daya tetasnya dan biasanya dalam lemari es kelembaban udaranya adalah dibawah 50%. Dikatakan perlu suhu yang cukup rendah tadi disebabkan karena suhu yang rendah memperlambat perkembangan embrio sampai telur telur siap untuk dimasukkan kedalam ruang incubator, sedangkan kelembaban yang tinggi akan mengurangi kelembaban didalam telur karena penguapan. Untuk akurasi pengukuran maka diperlukan peralatan Termometer (untuk suhu) dan Hygrometer (untuk kelembaban udara).



________________________________________
Temperatur (Wet Bulb) untuk penyimpanan
Temperature, oF.
Rel. Humidity 55 60 65 70
55% 47.2 51.4 55.5 60.0
60% 48.1 52.4 56.7 61.2
65% 49.0 53.4 57.8 62.3
70% 50.0 54.5 59.0 63.5
75% 50.9 55.4 60.0 64.6
80% 51.7 56.4 61.0 65.8
Department of Animal Science, the University of Minnesota Extension Service
________________________________________
Setelah telur telur dirasa cukup untuk jumlahnya sesuai kemampuan incubator atau keinginan kita maka telur harus segera dimasukkan kedalam incubator. Kemampuan daya tetas telur fertile masih baik jika penyimpanan sekitar 7 hari dan maksimum 10 hari. Selebihnya maka daya tetas telur akan menurun dan setelah 3 minggu maka telur tidak ada yang bisa menetas atau daya tetasnya 0%.
Syarat lain yang harus dilakukan selain kondisi suhu dan kelembaban pada saat penyimpanan sementara sebelum dimasukkan kedalam incubator adalah telur telur tersebut setelah 3 atau 4 hari disimpan harus diputar pagi dan sore seperti gambar dibawah. Hal ini penting untuk mencegah kuning telur didalam telur tersebut tidak sampai menyentuh kulit telur dan merusak embrionya. Peletakannyapun sebaiknya dalam tray telor (biasanya isi 30 setiap tray) yang dapat dibeli mudah di poultry shop dengan harga sekitar 3.000 perbuahnya, dengan ujung telur yang lebih tajam dibagian bawah kemudian dimiringkan sekitar 30 sampai 40 derajat. Selanjutnya rubah kedudukan telur tersebut pada pagi dan sore hari dengan kemiringan yang berubah ubah untuk tiap waktunya.

Telur telur tersebut selanjutnya secara perlahan lahan harus dihangatkan dahulu sebelum dimasukkan kedalam incubator. Perubahan temperatur yang draktis atau mendadak akan menyebabkan terjadi pengembunan secara cepat didalam telur dan hal ini akan berakibat buruk untuk daya tetas atau kerusakan struktur kulit telurnya.
INCUBATOR
Pada halaman web yang terpisah, kita ketahui dan telah diterangkan bahwa banyak tipe incubator dengan kemampuannya menetaskan telur mulai dari beberapa butir telur sampai dengan puluhan ribu bahkan ratusan ribu butir telur untuk sekali penetasan. Secara garis besar incubator hanya dikelompokkan menjadi 2 tipe dasar yaitu tipe forced air (dengan sirkulasi udara) dan still air (tanpa sirkulasi udara).
Di Indonesia (Jakarta), kami hanya menemukan tipe still air yang banyak dijual di dengan kapasitas mulai dengan 40, 100, 200 butir telur, walau pada prakteknya yang berkemampuan 100 butir hanya bisa dipakai untuk menetaskan 70 butir agar ada cukup ruang, tidak terlalu padat dan baik daya tetasnya. Jenis ini membutuhkan banyak penanganan dalam pemutaran telur yang biasanya dilakukan sedikitnya 3 kali sehari secara satu persatu dan dengan cara membuka tutup incubatornya. Suhu penetasannya selalu dibuat 2o sampai 3oF lebih tinggi dari type forced air atau sekitar 102o sampai 103oF. Hal ini karena panas untuk penetasan dirambatkan melalui udara dari bohlam lampu diatasnya.
Kami juga pernah menghubungi sebuah badan usaha di Jogjakarta yang khusus membuat incubator type forced air dan full otomatik dengan daya tampung telur minimum 7.000 telur tetas. Incubator ini menggunakan system komputer yang terprogram untuk pengaturan suhu dan kelembaban udara. Sedangkan telur tetas di dalamnya di letakkan dalam tray tray didalamnya untuk pemutaran telur secara otomatis berdasarkan program dan perubahan sudut secara periodic 24 jam penuh.
Selain itu sampai saat ini belum ada yang menjual mesin tetas dengan daya tampung 500, 1.000 atau 2.000 butir telur tetas yang dijual di pasaran. Hal ini mungkin berhubungan dengan faktor ekonomis dan kebutuhan pasar.
Kami membuat sendiri incubator sesuai kebutuhan kami yaitu type forced air dengan kapasitas 500 butir, sirkulasi udara panasnya menggunakan motor fan dan pemanan yang bersumber dari bohlam lampu yang diletakkan di ruang bagian belakang incubator. Untuk telur tetas kami juga menggunakan system tray bertingkat tingkat dan semi otomatik, karena pemutarannya tidak dengan motor yang terprogram tetapi dengan tuas yang ditarik dan ditekan untuk membuat perputaran telur telur di tray secara bersamaan untuk semua tray dan kami lakukan perputarannya 5 kali sehari yaitu jam 6, 10, 14, 18 dan 22. Demikian seterusnya dengan mengandalkan tenaga orang tetapi tanpa membalik telur secara manual dan membuka buka incubator. Jauh lebih praktis tentunya.
Ada 2 buah incubator yang kami pakai, Incubator yang pertama kami gunakan sebagai incubator pengeram karena untuk keperluan kami, kami menggunakan incubator ini secara berkala dengan selalu memasukkan telur tetas setiap 3 hari dengan posisi tray yang bergantian pada 4 tray vertical yang ada di dalamnya. 1 try dalam incubator ini dapat memuat 150 butir telur.
Bila usia telur tetas dalam proses “pengeraman” tadi telah mencapai usia 18 hari, maka kami memindahkannya dan menggunakan incubator yang kedua sebagai “penetas”. Selama 3 hari berikutnya sampai menetasnya telur telur tadi dan membiarkan anak ayam (DOC) tersebut sedikitnya 12 jam dan selamanya 24 dalam mesin penetas ini untuk kemudian dipindahkan ke kandang box. Biasanya 1 tray dengan 150 butir telur tersebut memerlukan 2 tray bertingkat untuk penetasan dalam incubator “penetas” (hatching). Hal ini dimaksudkan agar tersedia cukup ruang untuk DOC dan mempercepat proses pengERINGAN DOC YANG MENETAS.
PROSEDUR PENETASAN
Semua Incubator yang digunakan harus diletakkan dalam satu ruang khusus yang terlindungi dari perubahan suhu dan kelembaban udara secara draktis. Lagipula hal ini dimaksudkan untuk pengontrolan yang lebih baik terhadap suhu dan kelembaban udara bila diletakkan dalam ruangan dan ruangan tersebut dilengkapi dengan ventilasi udara.
Kebersihan di dalam ruangan, mesin incubator baik luar dan dalamnya termasuk sanitasinya harus diperhatikan dengan seksama. Mesin incubator harus dicoba dahulu setidaknya 1 – 2 jam dan di kontrol suhu dan kelembabannya sebelum digunakan. Hal ini untuk melihat apakan semua system telah berjalan


TEMPERATUR
Standart untuk suhu dalam incubator “penetasan” tipe forced air adalah 100oF. untuk jenis forced-air incubators dan 102oF. untuk type still-air incubators. Suhu pada incubator penetas (hatching) di set 1o F lebih rendah dibandingkan dengan incubator “pengeram” selama 3 hari sebelum penetasan.
________________________________________
Keterangan Ayam
Periode Incubator (Hari) 21
Temperatur (oF) 100
Humidity 65-70
Tidak ada pemutaran telur Hari ke 18th
Buka Vents tambah ¼ hari ke 10th
Buka Vents (jika diperlukan) hari ke 18th
________________________________________
Sedangkan untuk tipe still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur atau diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.
Fluktuasi temperatur sebanyak 1 derajat atau kurang tidak menjadi masalah tetapi pengontrolan Temperature secara berkala amat diperlukan untuk menjaga agar suhu tidak ketinggian atau kerendahan dari standart tersebut. Sebagai catatan : suhu sekitar 105oF. untuk 30 menit dapat mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada 90oF untuk 3 sampai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio didalam telur.
KELEMBABAN UDARA (HUMIDITY)
Pengontrolan kelembaban udara harus dilakukan dengan hati hati. Hal ini diperlukan untuk menjaga hilangnya air dari dalam telur secara berlebihan. Pengukuran dapat dilakukan dengan hygrometer atau psychrometer. Psychrometer atau termometer bola basah (wet bulb) menunjukkan derajat kelembaban udara dan dapat dibaca berdasarkan tabel dibawah ini:

________________________________________
Pembacaan temperatur system bola basah (wet Bulb ) untuk incubator
Temperatur, oF.
Rel. Humidity 99 100 101 102
45% 80.5 81.3 82.2 83.0
50% 82.5 83.3 84.2 85.0
55% 84.5 85.3 86.2 87.0
60% 86.5 87.3 88.2 89.0
65% 88.0 89.0 90.0 91.0
70% 89.7 90.7 91.7 92.7
________________________________________
Kelembaban relatif (relatif humidity) untuk mesin incubator “penetas” atau periode 18 hari pertama harus dijaga pada 50 – 55 % atau 83.3 oF – 85.3 oF dengan wet bulb. Dan 3 hari setelahnya (21 hari dikurangi 3 hari) atau pada hari ke 19 – 21 sebelum penetasan, kelembaban udara harus dinaikkan menjadi 60 oF - 65 oF atau 87.3 oF - 89 oF.
Pada saat 3 hari menjelang penetasan dapat dikatakan kita harus lepas tangan “hand-off” karena pada saat ini tidak diperlukan campur tangan manusia sama sekali selain menunggu proses penetasan berjalan sampai selesai dengan sendirinya. Incubator tidak boleh dibuka karena dapat menyebabkan kehilangan kelembaban udara yang amat diperlukan dalam penetasan. Kehilangan kelembaban dapat mencegah keringnya membran pada kulit telur pada saat penetasan (hatching).
Kelembaban yang rendah menyebkan anak ayam sulit memecah kulit telur karena lapisannya menjadi keras dan berakibat anak ayam melekat / lengket di selaput bagian dalam telur dan mati. Akan tetapi kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur juga sulit untuk memecah kulit telur atau kalaupun kulit telur dapat dipecahkan maka anak ayam tetap berada didalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan dalam telur itu sendiri.
Pada incubator penetas “hatching”, kelembaban udara bisa diatur dengan memberikan nampan berisi air dan bila perlu ditambahkan busa / sponse untuk meningkatkan kelembaban udara. Sedangkan pada tipe still-air maka menaikkan kelembaban dengan cara menambah nampan air dibawah tempat penetasan atau pada prinsipnya, menaikkan kelembaban dapat dicapai dengan menambah penampang permukaan airnya.
Adapun cara yang sempurna untuk menentukan kelembaban udara adalah dengan memperhatikan ukuran kantong udara didalam telur bagian atas atau bagian tumpulnya seperti gambar dibawah ini dengan menggunakan teropong telur. Kelembaban dapat diatur setelah peneropongan telur pada hari ke 7, 14, dan 18 pada masa penetasan.

VENTILASI
Ventilasi yang cukup adalah penting untuk diperhatikan mengingat didalam telur ada embrio yang juga bernafas dalam perkembangannya dan memerlukan O2 dan membuang CO2. Dalam operasi mesin penetas, lebar lubang bukaan ventilasi harus diatur agar cukup ada sirkulasi udara dan dengan memperhatikan penurunan tingkat kelembaban udaranya.
Pada incubator tipe still-air, buatan Cemani maka bukaan ventilasi ada di bagian atasnya yang dapat diatur untuk mengeluarkan udara bersamaan degan pergerakan udara panas yang ada didalamnya sedangkan sirkulasi udara masuk sudah cukup dari lubang lubang yang ada dibagian bawah dan samping incubator tersebut.
Pada incubator jenis forced-air incubator, jika terjadi lampu mati atau PLN off maka ventilasi harus dibuka lebih lebar dan bila perlu sesekali di buka pintunya agar terjadi pertukaran udara segar dan tetap diusahakan suhu ruangan berada pada kisaran 75oF atau lebih. Sedangkan pada incubator tipe still-air ventilasi dibiarkan terbuka ¼ atau ½ (tidak berubah atau lebih ditutup) agar panas dan kelembaban tidak terlalu terpengaruh.
PEMUTARAN TELUR
Pada incubator tipe forced-air seperti kami miliki, telur telur diletakkan pada tray tray pada tempatnya dengan unjung tajam telur menghadap kebawah. Pemutaran dilakukan secara manual dengan menarik dan menekan tuas untuk memindahkan posisi tray didalam mesin incubator agar terjadi sudut 30 – 45 derajat untuk tiap tiap waktu yang ditetapkan secara berkesinambungan dan bergantian sudutnya.
Pemutaran telur sedikitnya adalah 3 kali sehari atau 5 kali sudah lebih dari baik untuk mencegahembrio telur melekat pada selaput membran bagian dalam telur. Oleh sebab itu jangan pernah membiarkan telur tetas tidak dibalik atau diputar posisinya dalam 1 hari pada masa penetasan telur. Pemutaran telur tersebut dilakukan dalam 18 hari pertama penetasan. Tetapi JANGAN membalik telur sama sekali pada 3 hari terakhir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh diusik karena embrio dalam telur atau anak ayam yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasannya.
Pada incubator tipe still-air, pemutaran dilakukan secara manual dengan ketentuan seperti diatas. Biasanya untuk mempermudah dalam mengetahui posisi terakhir telur pada saat di putar maka telur tetas diberi tanda “O” pada satu sisis dan “X”. pada sisi lainnya,. Selanjutnya putar telur menurut waktu dan tanda secara bergantian dan secara berhati hati terutama 1 minggu pertama dalam incubator.
Ada baiknya juga menuliskan tanggal pada telur menggunakan pinsil untuk menandai beberapa hal seperti: dari kandang mana, jenis ayam, kapan bertelur, kapan dimasukkan incubator. Hal ini untuk mengetahui kapan telur nantinya akan menetas dan menentukan waktu peneropongan untuk penentuan fertilitas, kantong udara dan penentuan pemindahan telur sebelum menetas (- 3 hari).
Biasanya anak ayam (DOC) akan mulai menetas pada usia penetasan ke 20 dan 21 hari pada keadaan mesin penetasan yang bekerja normal dan sesuai prosedur. Anak ayam yang menetas setelah waktu itu atau setelah hari ke 22 biasanya tidak sehat atau lemah.
Setelah menetas, anak ayam dibiarkan beberapa jam didalam mesin incubator sampai kering sempurna. Hal ini dapat dilihat dengan telah lepasnya bulu bulu halus yang menyertai anak ayam waktu menetas dan berganti dengan bulu lembut yang menutupi sempurna seluruh tubuh anak ayam tersebut.
Selanjutnya anak anak ayam tersebut dipindah ke tempat lain (missal : chickguard atau kandang box) dengan diberikan makanan dan minuman. Makanan cukup diberikan dilantai kandang atau pada nampan yang rendah dengan jenis butiran halus agar anak ayam dapat mulai belajar makan. Minuman yang diberikan dapat ditambahkan vitamin seperti amylit dan vitachick. Khusus tempat minum, sebaiknya diberikan gundu atau kerikil kerikil kecil agar anak ayam tidak sampai tenggelam didalamnya.
Sedangkan untuk mesin incubatornya dapat dimatikan dan dibersihkan dari bulu bulu halus, pecahan pecahan kulit telur atau lainnya serta disemprot dengan bahan desinfektan atau dilakukan prosedur fumigasi. Sanitasi yang baik untuk mesin incubator penting untuk menjamin kebersihan dari bibit bibit penyakit.

PENGETESAN FERTILITAS TELUR
Pengetesan fertilitas telur adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Hal ini terutama diperlukan untuk menentukan jumlah telur yang fertile untuk terus ditetaskan sedangkan yang tidak fertile atau tidak bertunas harus disingkirkan karena tidak berguna dalam proses penetasan dan bahkan Cuma buang buang tenaga dan tempat saja. Padahal tempat yang ada dapat dimanfaatkan untuk telur telur fertile yang lain atau yang baru akan ditetaskan.
Tes fertilitas semacam ini tidak akan mempengaruhi perkembangan embrio telur, malah sebaliknya kita akan tahu seberapa normal perkembangan embrio didalam telur tersebut telah berkembang atau bertunas. Tatapi tetap sebagai hal yang terpenting dalam proses ini adalah mengetahui seberapa banyak telur yang fertile dan dapat menentukan langkah langkah yang diperlukan untuk telur yang tidak fertile terutama jika telur telur tersebut diberikan coretan / tulisan mengenai asal telur dan tanggal di telurkan oleh sang ayam maupun informasi asal kandangnya.

Ada beberapa istilah untuk alat melihat fertilitas telur disebut teropong telur atau tester atau candler. Alat ini mudah dibuat dengan cara menempatkan bohlam lampu dalam sebuah kotak atau silender yang dapat terbuat dari segala macam jenis baik kayu ataupun pralon 3 inch seperti pada gambar.
Cara membuatnya adalah dengan memotong pralon 3 inch sepanjang 20 cm dan menutup kedua ujungnya dengan kayu yang dibuat melingkar mengikuti pralon dan kemudian di mur. Bagian dalam diberikan fitting lampu dan sebuah bohlam lampu yang cukup terang (missal : 40 watt) dan satu ujung bagian atasnya pada bagian tengahnya diberikan lubang sebesar 2/5 besar diameter telur rata rata atau sekitar 2 cm.
Penggunaannya adalah dengan menyalakan bohlam lampu dan melalui lubang yang ada (pada bagian atasnya) diletakkan telur yang akan dilihat dengan cara menempelkan bagian bawah telur (bagian yang lebih tajam dari telur) ke lubang dan melihat perkembangan yang ada di dalam telur. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan alat ini pada ruangan yang gelap sehingga bagian dalam telur yang terkena bias cahaya lampu dapat lebih jelas terlihat.
Telur biasanya di test setelah 5 – 7 hari setelah di tempatkan dalam incubator. Telur dengan kulit yang putih seperti telur ayam kampung akan lebih mudah dilihat daripada telur negri atau yang warna kulitnya cokalat atau warna lainnya.
Pada saat test fertilitas, maka hanya telur yang ada bintik hitam dan jalur jalur darah yang halus yang akan terus di tetaskan. Tetapi singkirkan telur telur yang ada pita darahnya, tidak ada perubahan (tetap tidak ada perkembangan), ada blok kehitaman karena mati atau seperti contoh pada gambar berikut:

Apabila karena kurang pengalaman atau karena ragu ragu seperti missal menurut pengalaman kami perkembangan embrio kadang tidak terlihat jelas di bagian pinggir telur karena perkembangannya ada di tengah telur. Keadaan ini akan tampak seakan akan telur tidak berkembang tetpi nyatanya berkembang dengan baik.
Dalam kasus tersebut maka hal yang bijaksana adalah dengan mengembalikan telur telur tersebut kedalam incubator dan test kembali pada hari ke 10 atau 14 misalnya. Jika ternyata berkembang maka telur terus di tetaskan tetapi bila tidak maka harus dibuang.
KEGAGALAN PENETASAN
Bila karena suatu sebab telur tersebut gagal untuk menetas maka harus dicari penyebab masalahnya.

 Lap pertaggjwbn uang
 Brt acr surat surat janji




 Lampiran analiasis usaha
ANLISIS USAHA BUDIDAYA AYAM HIBRIDA PER SERATUS EKOR
( perlakuan pakan sempurna tanpa pakan tambahan)

1. Biaya produksi
Modal tetap (investasi)
Kandang Rp. 500.000
Perlengkapan kandang Rp. 100.000,-
Jumlah biaya modal tetap Rp. 600.000,-
2. Modal kerja/variable
Pakan BR 1 Rp. 1.000.000,-
DOC @ 3500 x 100 Ekor Rp. 350.000,-
Penyusutan kandang (5 thn) Rp. 16.000,-
Obat-obatan Rp. 20.000,-
Tenaga Rp. 50.000,-
Jumlah biaya modal kerja Rp. 1.436.000 ,-
Jumlah biaya produksi Rp .1.436.000 ,-
3. Pendapatan
Penjualan ayam 90 ekor x20.000 Rp. 1.800.000 ,-
Penjualan kotoran ayam 15 krg
@ 13.000 Rp.195.000 ,-
Jumlah pendapatan Rp. 1.995.000,-
4. Keuntungan
Rp. 1.995.000,- – 1.436.000.- Rp.559.000,-
Para meter kelayakan usaha b/c ratio = 2.7

Keterangan
Perhitungan pendapatan dilakukan saat panen umur 70 hari
Harga dihitung per ekor
Tanpa pakan tambahan

ANLISIS USAHA BUDIDAYA AYAM HIBRIDA PER SERATUS EKOR
( perlakuan pakan tambahan ampas tahu )
1. Biaya produksi
Modal tetap (investasi)
Kandang Rp. 500.000
Perlengkapan kandang Rp. 100.000,-
Jumlah biaya modal tetap Rp. 600.000,-
2. Modal kerja/variable
Pakan BR 1 (50 Kg) Rp. 500.000,-
Ampas tahu +bekatul +jagung Rp 500.000,-
DOC @ 3500 x 100 Ekor Rp. 350.000,-
Penyusutan kandang (5 thn) Rp. 16.000,-
Obat-obatan Rp. 20.000,-
Tenaga Rp. 50.000,-
Jumlah biaya modal kerja Rp. 1.436.000 ,-
Jumlah biaya produksi Rp .1.436.000 ,-

3. Pendapatan
Penjualan ayam 90 ekor x20.000 Rp. 1.800.000 ,-
Penjualan kotoran ayam 15 krg
@ 13.000 Rp.195.000 ,-
Jumlah pendapatan Rp. 1.995.000,-
4. Keuntungan
Rp. 1.995.000 – 1.436.000 Rp 473.000,-
Para meter kelayakan usaha
b/c ratio = 2,7
Keterangan
Perhitungan pendapatan dilakukan saat panen umur 70 hari
Harga dihitung per ekor
Dengan pakan tambahan ampas tahu
Dengan pakan tambahan berupa ampas tahu Umur 60 hari sudah dapat dipanen


SURAT PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN
NOMOR: 001/FMAWONOSARI/ 2010

Yang Bertandatangan Dibawah Ini,

1. Nama : SLAMET HASANUDIN
Nama kelompok : KELOMPOK
Alamat : Dukuh Banjarwaru Desa Wonosari Kecamatan
Bawang
Jabatan : KETUA KELOMPOK PETERNAK AYAM HIBRIDA FMA DESA WONOSARI
No hp : 085310722222

Disebut sebagai pihak pertama

2. Nama : DURIAT
Alamat : BONGEMBONG PAGERUYUNG
Pekerjaan : pedagang ayam hibrida
No hp : 085290110184
Disebut sebagai pihak kedua
- Pihak pertama bersedia menjadi penyedia ayam hibrida sesuai permintaan pihak kedua
- Pihak kedua bersedia membeli ayam hibrida milik pihak pertama dengan ketentuan sebagai berikut
a. Umur ±70 hari
b. Bobot 800 gr-1300 gr
c. Bentuk fisik sehat dan normal
d. Harga perekor Rp 20.000- Rp 25.000 atau menyesuaikan harga pasar
e. Jumlah permintaan perminggu minimal 500 ekor

Demikian surat perjanjian kemitraan ini kami buat tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun

wonosari 18 Mei 2010

Saksi Pihak Kedua
Sebagai mitra Pihak Pertama
Ketua kelompok




KADARYONO S PI
Nip 19610325.198103.1.005 (DURIAT) (SLAMET HASANUDIN)

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN
NOMOR: 002/FMAWONOSARI/ 2010

Yang Bertandatangan Dibawah Ini,

3. Nama : SLAMET HASANUDIN
Nama kelompok : KELOMPOK
Alamat : Dukuh Banjarwaru Desa Wonosari Kecamatan
Bawang
Jabatan : KETUA KELOMPOK PETERNAK AYAM
HIBRIDA FMA DESA WONOSARI
No hp : 085310722222

Disebut sebagai pihak pertama

4. Nama : INAYATI AINA
Alamat : Dukuh Banjarwaru Desa Wonosari
Pekerjaan : Manager UPG Sari Asih Desa Wonosari
No hp : 087830767171
Disebut sebagai pihak kedua
- Pihak pertama bersedia menjadi nasabah UPG Sari Asih apabila bunga tidak memberatkan
- Pihak kedua bersedia menjadi mitra keuangan pihak pertama dengan ketentuan bahwa pihak pertama bersedia mematuhi aturan yang berlaku dalam UPG Sari Asih Desa Wonosari

Demikian surat perjanjian kemitraan ini kami buat tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun

wonosari 18 Mei 2010

Saksi Pihak Kedua
Manager UPG Pihak Pertama
Ketua kelompok




KADARYONO S PI
Nip 19610325.198103.1.005 (INAYATI AINA ) (SLAMET HASANUDIN)