Minggu, 10 April 2011

laporan feati 2010 desa wonosari

LAPORAN KEGIATAN UNIT PENGELOLA FMA DESA WONOSARI
KECAMATAN BAWANG KABUPATEN BATANG
Tahun 2010


KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kita kepada tuhan UP FMA Desa Wonosari kecamatan bawang Kabupaten batang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan pembelajaran FMA tahun 2010 seperti yang tertuang dalam proposal yang berjudul “AGRIBISNIS AYAM HIBRIDA”.
Pembelajaran Agribisnis Didesa Wonosari didukung dengan 5 kegiatan pembelajaran yaitu:
1. Studi lapang produksi telur tetas ayam hibrida
2. Kursus pembuatan mesin tetas
3. Pelatihan pengenalan dan pencegahan hama penyakit Ayam
4. Magang penetasan telur
5. Temu Usaha Ayam Hibrida

pembelajaran agribisnis tersebut menggunakan dana P3TIP sebanyak Rp 30.949.000. (tiga puluh juta sembilan ratus empat puluh sembilan ribu rupiah. dan dengan kesadaran tinnggi maka kegiatan tersebut didukung pula dengan dana swadaya dari peserta.
Berikut ini laporan rinci perkegiatan hasil pembelajaran,dan di lengkapi dengan bukti pelaksanaan pembelajaran,untuk menjadikan periksa bagi pihak yang berkepentingan dan agar mudah diikuti dan ditindak lanjuti.
Atas dukungan semua pihak kami mengucapkan banyak terima kasih.


Wonosari 01, April 2011
KETUA UP FMA
DESA WONOSARI



BASUKI


DAFTAR ISI
Kata pengantar…………………………………
Daftar isi………………………………………..
Pendahuluan……………………………………
Laporan kegiatan pelatihan agribisnis ayam hibrida …………………………………………
Lampiran………………………………………… I
II
III

1
10




PENDAHULUAN
Sejak ditetapkamya desa wonosari sebagai pelaksana FMA, program FEATI Kabupaten Batang, mak kini telah berlangsung hingga tahun ketiga, dengan demikian desa wonosari telah berpengalaman untuk melaksanakan pembelajaran dari, oleh dan untuk petani (FMA) sebanyak tiga kali.
sungguh satu hal yang patut disukuri petani didesa Wonosari dapat memulai pembelajaran agribisnis seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah, dalam rangka berusaha tani (better farming) meningkatkan pendapatan petani melalui bisnis (better bussines) dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
pada tahun anggaran 2010 ini desaWonosari telah belajar agribis peternakan ayam hibrida yang ditempuh dengan belajar beragrobisnis dalam kelompok belajar, untuk mencukupi produk/komoditas yang dibutuhkan oleh pasar.pembelajaran agribisnis desa WonosAri tahun 2010, didukung dengan berbagai macam kegiatan pembelajaran yaitu:
1. Studi lapang produksi telur tetas ayam hibrida
2. Kursus pembuatan mesin tetas
3. Pelatihan pengenalan dan pencegahan hama penyakit Ayam
4. Magang penetasan telur
5. Temu Usaha Ayam Hibrida

atas persetujuan proposal UP FMA desa Wonosari pembelajaran agribis tersebut didukung dengan dana P3TIP sebanyak Rp30.949.000. (tiga puluh juta sembilan ratus empat puluh sembilan ribu rupiah. dan selain itu didukung pula dengan dana swadaya dari peserta sebesar Rp….., sehingga berjumlah Rp…….., berikut ini adalah laporan hasil pembelajaran, yang dirinci perkegiatan ,agar mudah diikuti dan ditindaklanjuti oleh peserta pembelajaran FMA tahun 2009, maupun dukungan dari semua pihak.

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN FMA
DESA WONOSARI KECAMATAN BAWANG KABUPATEN BATANG TAHUN 2010

UNIT PENGELOLA FMA
DESA : WONOSARI
KECAMATAN : BAWANG
KABUPATEN : BATANG

A. KEGIATAN
1. Nama kegiatan : PELATIHAN AGRIBISNIS AYAM HIBRIDA
2. Tujuan kegiatan : Melatih para peternak ayam dalam mengelola usaha
ayam hibrida secara lebih efektif terutama dalam bidang
a. Perkembangbiakan ayam hibrida
b. penetasan telur
c. pemeliharaan DOC( anakan ayam hibrida )
d. Obat dan vaksinasi bagi ayam hibrida
e. Pembuatan Ransum /Pakan Ayam
f. Pemeliharaan Ayam Hibrida
g. pemanfaatan limbah ternak ayam

3. Alasan pelaksanaan kegiatan :
ayam kampung yang selama ini di pelihara oleh para peternak tidak menjanjikan hasilnya, umur ayam kampung yang panjang, ayam hibrida rasa daging dan bentuknya sama dengan ayam kampung. Menjadikan alasan para peternak berpindah , dari ayam kampung biasa ke ayam kampung hibrida , karena ayam hibrida bisa menjadi subtitusi ayam kampung. Itulah alasan kegiatan tsb diatas, ditambah dengan banyaknya sumber daya alam yang cukup melimpah.
4. Waktu pelaksanaan : Bulan Desember 2010 s/d bulan april 2011
5. Peserta kegiatan : 30 orang, terdiri dari
 Jumlah peserta anggota kelompok :
o Laki-laki : 20 orang
o Perempuan : 10 orang
o Daftar peserta : Terlampir
6. Pemandu kegiatan :
a. Praktisi : Ismi Musyawati
: Suyudi SP peternakan
: Prajinto
: Dalmadi
: Yuni yermawati
: Sucipto Sos
b. BPTP : ir. Muryanto Msi
: Sisca serly Msi
: dian m yuawono
c. Dinas : Sakijan. Sp (BP3K)
: Prajinto (dinas pelayanan koperasi batang)
d. Penyuluh swadaya : Nikmaropik
: Trikurnia wati
e. Penyuluh pertanian : Kadaryono Spi
f. Pengamat penyakit : Slamet Hasanudin
g. Peneliti : Ir.Yuni Yermawati
: Ir. muryanto
7. Sumber dana kegiatan pembelajaran :
o IN-KIND
Masyarakat dukuh Banjarwaru : Ruang pelatihan dan perlenkapanya
o IN-KIND
Perpustakaan Taruna Tani Dk Banjarwaru : penggalian informasi kegiatan
o IN-CASH
Peternakan ayam Dk banjarwaru : 5 Ayam Ras petelur alat-alat vaksinasi ayam dan sebagian obat


o Dinas /instansi terkait ;
• BPPPK kecamatan Bawang
• Kantor Kecamatan Bawang
• BPPPPK Kabupaten Batang
• Kantor koperasi batang
8. Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Perencanaan
2. Identifikasi kebutuhan pasar
3. Analisis permintaan dan ketersediaan produk yang ada dipasar
4. Analisis skala usaha sesuai dengan permintaan pasar
5. PRA
6. Menyusun rencana kegiatan belajar/ usaha kelompok
7. Penyusunan programa penyuluhan desa
8. Penyusunan proposal pembelajara
9. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran
10. Monitoring dan evaluasi
11. pelaporan
9. Pembagian tugas dalam pelaksanaan pembelajaran
 Perencanaan : Slamet Hasanudin
 Persiapan : Yahya
 Pelaksanaan : A. Labib
 Monitoring dan evaluasi : Nikmaropik
10. Sarana dan prasaranapendukung kegiatan:
1. Ayam petelur
2. Peralatan ib
3. Peralatan obat dan vaksin
4. Kandang ayam hibrida ( pembesaran )
5. Mesin penetas telur
6. Kandang baterai (indukan ayam hibrida)
7. Atk
8. Tempat pembelajaran
9. Alat-alat praktek
11. Pedoman yang digunakan dalam kegiatan :
1. Modul dari fasilitator dan pengalaman lapang faslitator (terlampir)
2. Buku-buku panduan
3. Internet
4. Hasil uji kelompok
12. Ciri-ciri/indikator keberhasilan kegiatan pembelajaran
 Perubahan perilaku peserta
Setelah kegiatan pembelajaran selesai banyak sekali perubahan perilaku peserta diantaranya:
1. Mau memanfaatkan lingkungan yang kosong
2. Lebih giat bekerja
3. Dalam mengsikapi masalah lebih terbuka pada temanya
4. Terjadinya komunikasi antar mantan peserta
5. Peningkatan pendapatan
6. Kelompok menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap kegiatan
 Perubahan fisik komuditas yang dipelajari
Perubahan fisik pada komuditas yang dipelajari adalah
a. Jumlah indukan tahun 2009 berjumlah 25 2010 berjumlah 1165 ekor yang tersebar dalam anggota kelompok
b. Sudah bisa memproduksi doc sendiri dalam jumlah besar
c. Kelompok menjadi sarana magang dan pembelajaran bagi kelompok lain diseluruh propinsi jawa tengah bahkan sampai jawa timur
d. Pola budidaya yang lebih baik
e. Ayam dipelihara secara benar
 Perhitungan keuntungan agribisnis (terlampir)
 Dampak orang-orang yang mengikuti
Sebagian besar orang yang mengikuti kegiatan pembelajaran melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang agribis ayam hibrida karena setelah mereka menghitung-hitung adanya kenaikan pendapatan dari usaha ayam hibrida.
 Terjadinya transaksi penawaran hasil
Setelah adanya pembelajaran agribis ayam hibrida telah terjadi penawaran hasil dari para mitra yang akan bekerja sama (terlampir)
 Terjadinya rintisan penambahan modal
Dari kegiatan yang telah dilaksanakan, telah terjadi rintisan modal dalam mengembangkan usaha dibidang agribis ayam hibrida, itu terlihat dari sebagian peserta sudah banyak yang mengajukan kredit pada UPG (Unit Permodalan Gapoktan) sari asih dan bahkan sudah terjadi kemitraan dengan BPD
 Terjadinya kemitraan usaha (telampir)
Dalam perjalananya telah ada /terjadi jalinan kerjasama (kemitraan antara pelaku utama dan pelaku usaha.yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
13. Biaya yang dipergunakan

1. Biaya dari P3TIP/FMA : Rp30.949.000. (tiga puluh juta sembilan ratus empat puluh sembilan ribu rupiah
2. Biaya dari swadaya peserta : …………..
3. Biaya dari sunber lain :
4. Rab masing-masing : terlampir
5. Anggaran FEATI Rp30.949.000
- Penggunaan Rp…………..
- Pembelajaran Rp………….
- Perjalanan Rp………..
- Bahan Rp……….
- konsumsiRp…….
- Sisa dikas up Fma

14. Monitoring dan evaluasi
 Pelaku : Nikmaropik
: Kadaryono Spi
 Cara : dalam pelaksanaan monitoring dilakukan dangan
berbagai cara dan dilaksanakan pada waktu kegiatan dan setelah kegiatan
 Hasil yag dimonitoring (terlampir)


KEGIATAN INDICATOR RENCANA REALISASI PENYIMPANGAN PERBAIKAN YANG
DIPERLUKAN
Pelatihan agribis ayam hibrida Waktu pembelajaran/ pertemuan 3 bulan Terealisasi ada perubahan jadwal Tidak ada penyimpangan Waktu pembelajaran diperpanjang.
Cara praktek Penggunaan tecknologi IB, mesin tetas, kandang baterai, kandang umbaran terbatas. Menggunakan mesin tetas sederhana, kandang sederhana, penggunaan IB, kandang umbaran, kandang baterai. Lampu sering padam karena daerah pegunungan, jumlah DOC yang dipelihara terlalu banyak. Modivikasi mesin tetas otomatis, kandang umbaran harus lebih lebar sesuai standar.
Hasil pelatihan Telur menetas 85%, demplot 100 DOC, membuat pakan sendiri Telur menetas 70%, demplot 500 ekor (DOC) membuat pakan sendiri Gangguan pada listrik. Telur tetas produksi sendiri dalam jumlah banyak
Diterima pasar /terjual 100% diterima pasar, 70% diterima pasar luar kecamatan, 30% diterima pasar kecamatan Tidak ada Pasar diperlebar.

15. Tindak lanjut setelah selesai pembelajaran
• Adanya (terbentuknya kelompok peternak ayam hibrida taruna tani Banjarwaru desa Wonosari)
Setelah pembelajaran selesai semua peserta membuat sebuah kelompok
AGRIBIS AYAM HIBRIDA BANJARWARU DESA WONOSARI
Dengan susunan pengurus (terlampir)
• Adanya usaha bersama agribisnis ayam hibrida
• Penyediaan informasi bagi petani tentang ayam hibrida






16. Penutup
Puji sukur pada tuhan, kegiatan pembelajaran bagi petani FMA Desa Wonosari tahun 2010 telah selesai dengan sempurna, adapun kekuranganya akan kami tambah dalam kegiatan lanjutan yang akan kami laksanakan secara swsadaya, memang masih banyak kekurangan yang kami rasakan terutama dalam segi penetasan telur, karena masih tergantungnya kami terhadap listrik sehingga saat ada pemadaman lampu listrik kami masih menggunakan pemanas dari lampu teplok sehingga hasil dari penetasa belum begitu maksimal, dapat dilihat sampai saat ini kami belum bisa memenuhi permintaan pasar yang jumlahnya mencapai 1.000/minggu, padahal kami hanya mampu menyediakan DOC paling banyak 700 ekor perminggu, jadi kami masih banyak burtuh pelatihan lagi di kemudian hari entah dengan dana bantuan pemerintah ataupun dana swadaya. Demikian laporan kegiatan pembelajaran FMA desa wonosari telah selesai kami buat secara maksimal


Penyuluh Lapangan Desa Wonosari



Kadaryono SPI Wonosari 1 april 2011
Ketua FMA Desa Wonosari


Basuki


17. Lampiran

BIODATA PESERTA

No Nama Alamat Tempat tanggal lahir Pekerjaan Tlp
3 Yahya wonosari Batang 26 mei 1977 Petani 081391777934
4 Romadlon wonosari Petani 085325062684
5 Basuki wonosari Batang 05 ags t 1953 Perangkat desa 081326490615
6 Khurotul aien wonosari Batang 02 nof 1984 Mahasiswa 081901143139
7 Mukhlis wonosari Peternak ayam
8 Munajad wonosari Batang 21 juni 1986 Peternak ayam 081385621490
9 Mudrikah wonosari Pengrajin emping 087871947436
10 Nimaropik wonosari Batang 18 mei 1980 Peternak ayam 081391824231
11 Sarip wonosari Batang 25 juli 1978 Swasta 087830592248
12 Abdul aziz wonosari Pedagang 085285552929
13 Rantiyah wonosari Pedagang
14 Mastoni wonosari Pelajar 085727020993
15 Khoirunikmah wonosari Santri
16 Mahzum wonosari Pedagang saprodi 081391777997
17 Slamet. H wonosari Batang 26 juli 1978 Peternak ayam 085310722222
18 Maskur wonosari Mahasiswa
19 Rebut w wonosari Mahasiswa 087830994230
21 Mahmudi wonosari Peternak bebek 081281567751
22 Subhan wonosari Batang Karyawan ternak
24 Faizun wonosari Mahasiswa 085226140170
25 Akhmad labib wonosari Guru 081229347799
26 Akhmad Kabul wonosari Peternak ayam 087770054947
27 Zaini wonosari Batang 25 Okt 1985 Peternak kelinci 085286904000
28 Nurhadi wonosari Pengangguran 087832440487
29 M. adib wonosari Peternak ayam 085226888820
30 Nasihin wonosari Batang 19 juni 1977 Petani 085226542037
31 M. khairul wonosari Petani
32 Anwaropik wonosari Peternak ayam 087830974393
33 Listianatul .m wonosari Pengrajin emping
34 Qodriyqh wonosari Pengrajin emping
35 Siti muawanah wonosari Pengrajin emping
36 Setio budi wonosari 12 September 1981 Perangkat desa 085226565558
37 Mukhlisun wonosari Guru 085226947471


Fasilitattor
No Nama Alamat Tempat tanggal lahir Pekerjaan Tlp
1 Kadaryono SP.i Kendal - PPL 081325429037
2 Sakijan SP Bawang Kord ppl 081328077321
3 Sutoyo SP Jlamprang PPL 081325302299
4 Ismi musawati Ungaran Praktisi 081391848345
5 Prajinto So.s Batang Ahli



No Tgl/hari/jam Jenis pelatihan Metoda Nara sumber/asal Tempat / lokasi Penanggung jawab
1 24c des Studi lapang produksi telur tetas Suyudi. Spt Kendal Kandang kelompok Basuki
Perkandangan produksi telur Teori/praktek Suyudi. Spt
Hasanudin
Seleksi indukan Teori/praktek Suyudi. Spt
Suyudi. spt
Pembuatan ransum indukan Teori/praktek
Perawatan indukan Teori/praktek
28 des Pemeliharaan selama produksi Teori/praktek
2 02-01-2011 Pelatihan Pembuatan Mesin Tetas Agus /Bawang Rumah sdr A.lbib
Nikmaropik
19.00 -22,00 Teori praktek Praktek langsung
19.00 -22,00 Praktek Praktek langsung
04/01/2011
19.00 -22,00 Praktek Praktek langsung Rumah sdr yahya
3 25 jan -14 peb 2011 Magang penetasan telur Praktek langsung jarwoto/ani yuliati Tmgg Temanggung Yahya
4 05Pebruari
09.00-14,00 Pelatihan Pengenalan Dan Pencegahan Penyakit Teori/ceramah/ diskusi Arief sunyoto spt semarang/ s hasanudin Kandang nikmaropik Slamet .H
05 Pebruari
09.00-14,00 Pengenalan jenis jenis penyakit yang menyerang ayam dari luar Ceramah/praktek/diskusi Kandang nikmaropik Slamet .H
06 Pebruari
09.00-14,00 Pengenalan jenis jenis penyakit yang menyerang ayam dari dalam/bedah Ceramah/praktek/diskusi Kandang nikmaropik Slamet .H
07 Pebruari
09.00-14,00 Tekhnik pengobatan suntik,vaksin,jenis obat yang digunakan Ceramah/praktek/diskusi Kandang nikmaropik Slamet .H
08 Pebruari
09.00-14,00 Pencegahan penyakit Ceramah/praktek/diskusi Kandang nikmaropik Slamet .H
09 Pebruari
09.00-14,00 Teknik alami dalam mencegah dan mengobati penyakit. Ceramah/praktek/diskusi Kandang nikmaropik Slamet .H
5 11 Pebruari
09.00-14,00 Peltihan pembuatan kandang Ceramah/praktek/diskusi
11 Pebruari
09.00-14,00 Bok Ceramah/praktek/diskusi Yahya Rumah sdr mahmudi Basuki
12 Pebruari Indukan Ceramah/praktek/diskusi s.hasanudin Rumah sdr yahya
09.00-14,00 Pembesaran Ceramah/praktek/diskusi Yahya
6 Temu usaha Ceramah/tinjauan lapang Panitia Semua anggota KUB Basuki

Lampiran Petunjuk tecnis pembelajaran
TEKNIK BUDIDAYA AYAM HIBRIDA

I. LANGKAH-LANGKAH YANG PERLU DI SIAPKAN SEBELUM DOC DATANG
A. PERSIAPAN BOX

1. Ukuran box 2m x2m kapasitas maksimal 400c.
2. Kedalaman box 40 cm, tujuannya :
a. Panas bisa maksimal
b. Memudahkan dalam setiap perlakuan.
3. Bahan box :
a. Paling bagus dari seng untuk bagian dindingnya karena bisa
memantulkan panas lebih maksimal.
b. Dasar box dari papan selain kuat mudah di bersihkan.
c. Tutup box bisa dari kardus di double jaring-jaring bambu sesuai
ukuran, lebar dan panjang box. Tujuannya siang hari ayam butuh sirkulasi udara.
4. Kebutuhan lampu di sesuaikan lingkungan, cuaca dan kondisi ayam.
KETERANGAN:
Lampu di hidupkan 1 jam sebelum doc datang sehingga kandang sudah hangat.
Selama 7 hari lampu di nyalakan 24 jam. Pada hari-hari selanjutnya lampu
dinyalakan di sesuaikan dengan keadaan cuaca.

B. TANDA –TANDA AYAM HARUS TURUN TURUN DARI BOX

1 Bau amoniak dari kotoran sudah menyengat.
2 Anak ayam sudah berdesak –desakan.
3 Kondisi ayam sudah siap –siap lepas dari pemanas.
4 Biasanya selelah Vaksin ke 2 ± umur 12 hari ayam siap turun dari Box.

KETERANGAN
1. JIKA AYAM KEPANASAN ( megap – megap ) tindakan yang di perlukan
Buka sebagiaan pintu Box dan Mengurangi jumlah lampu
2.JIKA AYAM KEDINGINAN
Ciri –ciri : Ayam Bergerombol, Bulu layu / kusam,tidak mau makan
Tindakan yang diperlukan :
o Tambah Jumlah Lampu
o Box ditutup Rapat

II. PERSIAPAN KANDANG BAWAH ( LITTER )

1. Lantai dari Semen kasar/juga bisa dengan system panggung dengan bambu
seperti yang ada di Dukuh Banjarwaru
2. Sekam disebar tipis , perlu diperhatikan
a. Jangan sampai sekam basah dan bau
b. Jika sekam sudah Bau segera di tambah sekam Baru
INGAT : Jangan mengangkat sekam sebelum ayam di panen

3. Dinding kandang terbuat dari bahan bambu dirangkai Tujuaan : Akan
diperoleh sirkulasi udara yang baik
4.Tempat pakan Gantung yang di butuhkan dan ketinggian mengantung,
disesuaikan umur ayam
5.Penggunaan lampu mulai dihentikan.
6.Tempat minum pakai Gallon 7 liter.dibersihkan 2 X sehari, pagi dan sore

III. MASA PANEN

 Usai panen umur 60 -70 hari
 Berat laku minimal 8 ons – 1,2 Kg
 Ayam dijual ekoran atau Kiloan ( harga menyesuaikan pasar )
 Kebutuhan pakan per 100 ekor, 3 – 4 Zak (@50 kg)

KEBUTUHAN TEMPAT PAKAN 2 TEMPAT MINUM
TIAP 100 EKOR AYAM HIBRIDA
UMUR
( minggu ) TEMPAT PAKAN TEMPAT TUJUAAN

1 1 – 3 Hari diatas
Koran
2 buah Literan
Memaksimalkan DOC bisa ikut makan semua
Mengurangi pakan Tumpah Disesuaikan dalam jangkauan makanan Tidak mudah tumpah dipasang sesuai tinggi ayam / menghindari makanan di eker -eker
2 4 – 7 hari pakai Nampan 2 buah Literan
( 1 literan )
3 - 8 ( 3 buah )
Pakai Nampan
( 3 buah )
Pakai gantungan
( 3 bauh ) 2 buah Literan
( 7 Literan )

KETERANAGAN

a. TEMPAT MINUM :
1.Dicuci pagi dan sore ketika mengganti minum
2.Sekam Janagan samapi masuk tempat minum karena ayam bisa mudah
kena penyakait
3. Diletakan lebih tinggi dari dasar lantai
b. TEMPAT PAKAN :
1.Ketinggian beubah-ubah mengikuti tinggi dan umur ayam
2.Kebutuhan pakan di sesuaikan umur,makin besar ayam Makin banyak jumlah pakan yang di berikan.
c. SANITASI DAN ISTIRAHAT KANDANG
a. Setelah ayam di jual ,litter segera di keluarkan dan di jauhkan dari Kandang
atau di bakar.
b. Dinding dan lantai kandang di sikat dan di cuci dengan air sabun kemudian Di semprot dengan air hingga bersih
c. Setelah pembersihan dan pencucian kandang kemudian di lakukan Pengapuran dinding dan lantai kandang.
d. Semprot kandang dengan menggunakan FORMADES.
Dosisnya adalah 12 ml FORMADES di campur dengan 2,5 liter air, Disemprotkan keseluruh bagian kandang.Bila kandang yang bersangkutan
e. Bekas menampung ayam yang terserang penyakit atau ada wabah,dosis FORMADES adalah 10 ml tiap 1 liter air.Untuk 2 liter larutan yang telah di Encerkan,cukup untuk menyemprot kandang seluas 100
f. Masukkan ke dalam kandang ,tempat ransum dan tempat minum yang Sudah Bersih dan kering,untuk ikut di desinfektan
g. Peralatan peternakan ( tempat ransum,tempat minum dll) di cuci sampai bersih, rendam minimal 30 menit dalam MEDISEP 15 ml tiap 10 liter air, dilakukan 4 hari sekali.
h. Majuhkan atau mundurkan jadwal desinfeksi ( pembilasan dengan MEDESEP atau MEDIKLIN) tempat minum ayam jika harinya bertepatan dengan jadwal Vaksinasi.
i. Masa istirahat kandang minimal 2 minggu.

PROGRAM PEMELIHARAAN AYAM HIBRIDA

UMUR
( HARI ) PERLAKUAAN
WAKTU
KET

1  Air minum ( + ) garam sePucuk sendok
 Pakan disebar diatas koran Pagi – pagi

Sepanjang hari Adlibitum
2 - 4 - Air minum ( + VITACHICKS
- Pakan disebar di atas koran
- Air minum putih ( dari sumur )
VAKSIN PERTAMA Pagi -sore

Sore -pagi
13 – 15

VAKSIN KE DUA
Air minum(+) NEUBRO

Pagi – sore


Adilibitum
16 – 18

Air minum pitih
Pemberiaan pakan mulai
Digantung sesuai tinggi
Ayam Sore – pagi
Selalu ada


19- 20 Lampu mulai di hentikan
Air minum putih
Air minu putih
Pakan digantung
Pagi – pagi
Pagi – pagi
Sore - pagi slalu ada
1









22 – 24
25 – 27
28 – 30
31
32
33
34-36
37 – 39
40 – 42
43 – 45
46 – 48
49 – 52
53 - 55 VAKSIN KETIGA
- Ayam puasakan minum 4 jam se
Belum divaksin
- Saat pemberiaan Vaksin
Maksimal 2 jam
- Habis Vaksin air minum di cuci
Segera diganti air(+) VITASTRES
Pakan digantung
-Air minum (+) NEUBRO
Air minum putih
- Air minum(+) DOXYVET
- Air minum putih
Air minum putih
Air minum VITASTRES
Air minum putih
- pemberiaan( +)VERMIXON
( obat cacing)
Air minum(+)VITASTRES
Air minum putih
-Air Minum(+) DOXYVET
- Air minu putih
Air minum putih
Air minum(+) NEUBRO
Air minum putih
-Air minum putih
- Air minum TRIMENSYN
- Air minum putih
-Air minum putih
-Air minum(+) NEUBRO
- Air minum putih
Dst SAMPAI PANEN Dilakukan







Pagi – sore
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi –pagi
Pagi sore
Sore – pagi

Pagi –sore
Sore – pagi
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi – sore
Pagi – sore
Sore – pagi
Pagi – pagi
Pagi –sore
Sore – pagi
Pagi – pagi
Pagi – sore
Sore - pagi

ANLISIS USAHA BUDIDAYA AYAM HIBRIDA PER SERATUS EKOR
( perlakuan pakan sempurna tanpa pakan tambahan)

1. Biaya produksi
Modal tetap (investasi)
Kandang Rp. 500.000
Perlengkapan kandang Rp. 100.000,-
Jumlah biaya modal tetap Rp. 600.000,-
2. Modal kerja/variable
Pakan BR 1 Rp. 1.000.000,-
DOC @ 3500 x 100 Ekor Rp. 350.000,-
Penyusutan kandang (5 thn) Rp. 16.000,-
Obat-obatan Rp. 20.000,-
Tenaga Rp. 50.000,-
Jumlah biaya modal kerja Rp. 1.436.000 ,-
Jumlah biaya produksi Rp .1.436.000 ,-
3. Pendapatan
Penjualan ayam 90 ekor x20.000 Rp. 1.800.000 ,-
Penjualan kotoran ayam 15 krg
@ 13.000 Rp.195.000 ,-
Jumlah pendapatan Rp. 1.995.000,-
4. Keuntungan
Rp. 1.995.000,- – 1.436.000.- Rp.559.000,-
Para meter kelayakan usaha b/c ratio = 2.7

Keterangan
Perhitungan pendapatan dilakukan saat panen umur 70 hari
Harga dihitung per ekor
Tanpa pakan tambahan

ANLISIS USAHA BUDIDAYA AYAM HIBRIDA PER SERATUS EKOR
( perlakuan pakan tambahan ampas tahu )
1. Biaya produksi
Modal tetap (investasi)
Kandang Rp. 500.000
Perlengkapan kandang Rp. 100.000,-
Jumlah biaya modal tetap Rp. 600.000,-
2. Modal kerja/variable
Pakan BR 1 (50 Kg) Rp. 500.000,-
Ampas tahu +bekatul +jagung Rp 500.000,-
DOC @ 3500 x 100 Ekor Rp. 350.000,-
Penyusutan kandang (5 thn) Rp. 16.000,-
Obat-obatan Rp. 20.000,-
Tenaga Rp. 50.000,-
Jumlah biaya modal kerja Rp. 1.436.000 ,-
Jumlah biaya produksi Rp .1.436.000 ,-

3. Pendapatan
Penjualan ayam 90 ekor x20.000 Rp. 1.800.000 ,-
Penjualan kotoran ayam 15 krg
@ 13.000 Rp.195.000 ,-
Jumlah pendapatan Rp. 1.995.000,-
4. Keuntungan
Rp. 1.995.000 – 1.436.000 Rp 473.000,-
Para meter kelayakan usaha
b/c ratio = 2,7
Keterangan
Perhitungan pendapatan dilakukan saat panen umur 70 hari
Harga dihitung per ekor
Dengan pakan tambahan ampas tahu
Dengan pakan tambahan berupa ampas tahu Umur 60 hari sudah dapat dipanen


SURAT PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN
NOMOR: 001/FMAWONOSARI/ 2010

Yang Bertandatangan Dibawah Ini,

1. Nama : SLAMET HASANUDIN
Nama kelompok : KELOMPOK
Alamat : Dukuh Banjarwaru Desa Wonosari Kecamatan
Bawang
Jabatan : KETUA KELOMPOK PETERNAK AYAM HIBRIDA FMA DESA WONOSARI
No hp : 085310722222

Disebut sebagai pihak pertama

2. Nama : DURIAT
Alamat : BONGEMBONG PAGERUYUNG
Pekerjaan : pedagang ayam hibrida
No hp : 085290110184
Disebut sebagai pihak kedua
- Pihak pertama bersedia menjadi penyedia ayam hibrida sesuai permintaan pihak kedua
- Pihak kedua bersedia membeli ayam hibrida milik pihak pertama dengan ketentuan sebagai berikut
a. Umur ±70 hari
b. Bobot 800 gr-1300 gr
c. Bentuk fisik sehat dan normal
d. Harga perekor Rp 20.000- Rp 25.000 atau menyesuaikan harga pasar
e. Jumlah permintaan perminggu minimal 500 ekor

Demikian surat perjanjian kemitraan ini kami buat tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun

wonosari 18 Mei 2010

Saksi Pihak Kedua
Sebagai mitra Pihak Pertama
Ketua kelompok




KADARYONO S PI
Nip 19610325.198103.1.005 (DURIAT) (SLAMET HASANUDIN)

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN
NOMOR: 002/FMAWONOSARI/ 2010

Yang Bertandatangan Dibawah Ini,

3. Nama : SLAMET HASANUDIN
Nama kelompok : KELOMPOK
Alamat : Dukuh Banjarwaru Desa Wonosari Kecamatan
Bawang
Jabatan : KETUA KELOMPOK PETERNAK AYAM
HIBRIDA FMA DESA WONOSARI
No hp : 085310722222

Disebut sebagai pihak pertama

4. Nama : INAYATI AINA
Alamat : Dukuh Banjarwaru Desa Wonosari
Pekerjaan : Manager UPG Sari Asih Desa Wonosari
No hp : 087830767171
Disebut sebagai pihak kedua
- Pihak pertama bersedia menjadi nasabah UPG Sari Asih apabila bunga tidak memberatkan
- Pihak kedua bersedia menjadi mitra keuangan pihak pertama dengan ketentuan bahwa pihak pertama bersedia mematuhi aturan yang berlaku dalam UPG Sari Asih Desa Wonosari

Demikian surat perjanjian kemitraan ini kami buat tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun

wonosari 18 Mei 2010

Saksi Pihak Kedua
Manager UPG Pihak Pertama
Ketua kelompok




KADARYONO S PI
Nip 19610325.198103.1.005 (INAYATI AINA ) (SLAMET HASANUDIN)

Sabtu, 15 Januari 2011

Menetaskan DOC yang Ber-kualitas

1. SEJARAH SINGKAT
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga
menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula. Disinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur.

Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika.
2. SENTRA PETERNAKAN
Ayam telah dikembangkan sangat pesat di setiapa negara. Sentra peternakan ayam petelur sudah dijumpai di seluruh pelosok Indonesia terutama ada di Pulau Jawa dan Sumatera, tetapi peternakan ayam telah menyebar di Asia dan Afrika serta sebagian Eropa.
3. J E N I S
Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:

1)Tipe Ayam Petelur Ringan.
Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Setiap pembibit ayam petelur di Indonesia pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan (petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus untuk bertelur saja sehingga semua kemampuan dirinya diarahkan pada kemampuan bertelur, karena dagingnya hanya sedikit. Ayam petelur ringan ini sensitif terhadapa cuaca panas dan keributan, dan ayam ini mudah kaget dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila kepanasan.
2) Tipe Ayam Petelur Medium.
Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran orang mengatakan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih, kalau dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah harganya dipasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur putih dan produksinya telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu daging dari ayam petelur medium akan lebih laku dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa yang enak.
4. MANFAAT
Ayam-ayam petelur unggul yang ada sangat baik dipakai sebagai plasma nutfah untuk menghasilkan bibit yang bermutu. Hasil kotoran dan limbah dari pemotongan ayam petelur merupakan hasil samping yang dapat diolah menjadi pupuk kandang, kompos atau sumber energi (biogas). Sedangkan seperti usus dan jeroan ayam dapat dijadikan sebagai pakan ternak unggas setelah dikeringkan. Selain itu ayam dimanfaatkan juga dalam upacara keagamaan.
5. PERSYARATAN LOKASI


1)Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk.
2) Lokasi mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran.
3) Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1. Kandang
Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.

Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan.

Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya dibagi menjadi dua: a) Sistem kandang koloni, satu kandang untuk banyak ayam yang terdiri dari ribuan ekor ayam petelur; b) Sistem kandang individual, kandang ini lebih dikenal dengan sebutan cage. Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial.

Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1) kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni; 2) kandang dengan lantai kolong berlubang, lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan; 3) kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri).

2. Peralatan
a. Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
b. Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.
c. Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
d. Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus

6.2. Peyiapan Bibit
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:
a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.
c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.

Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:
a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.

1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung sebagai berikut:
a. Konversi Ransum.
Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada sejumlah ransum yang dimakannya. Bila ayam itu makan terlalu
banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi ayam itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada berbagai bibit ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit
ayamnya.
b. Produksi Telur.
Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang dapat memproduksi telur banyak. Tetapi konversi ransum tetap utama sebab ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan.
c. Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan.
Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Contoh prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur dapat dilihat pada data di bawah ini.
- Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 270, ransum 1,82 kg/dosin telur.
- Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.
- Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 288, ransum 1,89 gram/dosin telur.
- H & W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 272, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
- Hubbarb leghorn: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)260, ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur.
- Ross white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 275, ransum 1,9 kg/dosin telur.
- Shaver S 288: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)280, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
- Babcock B 380: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260-275, ransum 1,9 kg/dosin telur.
- Hisex brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house)272, ransum 1,98 kg/dosin telur.
- Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260, ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur.
- Ross Brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 270, ransum 2,0 kg/dosin telur.
- Shaver star cross 579: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 265, ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur.
- Warren sex sal link: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 280, ransum 2,04 kg/dosin telur.

6.3. Pemeliharaan

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.

2. Pemberian Pakan
Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.
b. Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%; serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.
Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.
Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.

3. Pemberian Vaksinasi dan Obat
Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang menulardengan cara menciptakan kekebalan tubuh. Pemberiannya secara teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2 macam yaitu:

Vaksin aktif adalah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif.

Vaksin inaktif, adalah vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga mampu membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek, keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.

Macam-macam vaksin:
a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna
b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)
c) Vaksin NCD HB-1/Pestos.
d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.
e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.

Persyaratan dalam vaksinasi adalah:
a) Ayam yang divaksinasi harus sehat.
b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.
c) Sterilisasi alat-alat.

4. Pemeliharaan Kandang
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Penyakit

1.Berak putih (pullorum)
Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi.
Penyebab: Salmonella pullorum.
Pengendalian: diobati dengan antibiotika
2. Foel typhoid
Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa.
Penyebab: Salmonella gallinarum.
Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.
Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa.
3. Parathyphoid
Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.
Penyebab: bakteri dari genus Salmonella.
Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.
4. Kolera
Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati.
Penyebab: pasteurella multocida.
Gejala: pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar.
Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).
5. Pilek ayam (Coryza)
Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.
Penyebab: makhluk intermediet antara bakteri dan virus.
Gejala: ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek.
Pengendalian: dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.
6. CRD
CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia. Menyerang anak ayam dan ayam remaja. Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).
7. Infeksi synovitis
Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan kalkun.
Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma.
Pengendalian: dengan antibiotika.

7.2. Penyakit karena Virus
1.Newcastle disease (ND)
ND adalah penyakit oleh virus yang populer di peternak ayam Indonesia. Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di daerah Priangan.Tungau (kutuan) Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia. Kemudian di Eropa, penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia. Akhirnya penyakit ini disebut Newcastle disease.

2.Infeksi bronchitis
Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam. Pada dewasa penyakit ini menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja. Tingkat kematian ayam dewasa adalah rendah, tapi pada anak ayam mencapai 40%. Bila menyerang ayam petelur menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat (kuning telur yang normal selalu ada ditengah). Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi.

3.Infeksi laryngotracheitis
Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi pada unggas.
Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium. Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan, misalnya karbol.
Pengendalian: (1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini; (2) pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat.

4.Cacar ayam (Fowl pox)
Gejala: tubuh ayam bagian jengger yang terserang akan bercak-bercak cacar.
Penyebab: virus Borreliota avium. Pengendalian: dengan vaksinasi.

5.Marek
Penyakit ini menjadi populer sejak tahun 1980-an hingga kini menyerang bangsa unggas, akibat serangannya menyebabkan kematian ayam hingga 50%. Pengendalian: dengan vaksinasi.

6.Gumboro
Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.
7.3. Penyakit karena Jamur dan Toksin
Penyakit ini karena ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan. Hasil perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam. Ada pula pengolahan bahan yang menyebabkan asam amino berubah menjadi zat beracun. Beberapa penyakit ini adalah :

1.Muntah darah hitam (Gizzerosin)
Ciri kerusakan total pada gizzard ayam. Penyebab: adalah racun dalam
tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini. Timbul penyakit ini akibat pemanasan bahan makanan yang menguraikan asam amino hingg menjadi racun.
Pengendalian: belum ada.

2.Racun dari bungkil kacang
Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus. Untuk menghindari keracunan bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi.
7.4. Penyakit karena Parasit
1.Cacing
Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang bersih dan terpelihara baik. Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman kotor maka mungkin ayam terserang cacingan. Ciri serangan cacingan adalah tubuhnya kurus, bulunya kusam, produksi telur merosot dan kurang aktif.

2.Kutu
Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia. Dari luar kutu tidak terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya. Tanda fisik ayam terserang ayam akan gelisah. Kutu umum terdapat di kandang yang tidak terkena sinar matahari langsung maka sisi samping kandang diarahkan melintang dari Timur ke Barat. Penggunaan semprotan kutu sama dengan cara penyemprotan nyamuk. Penyemprotan ini tidak boleh mengenai tangan dan mata secara langsung dan penyemprotan dilakukan malam hari sehingga pelaksanaannya lebih mudah karena ayam tidak aktif.
7.5. Penyakit karena Protoza
Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead), penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya ayam petelur adalah berupa telur yang diahsilkan oelh ayam. Sebaiknya telur dipanen 3 kali dalam sehari. Hal ini bertujuan agar kerusakan isi tlur yang disebabkan oleh virus dapat terhindar/terkurangi. Pengambilan pertama pada pagi hari antara pukul 10.00-11.00; pengambilan kedua pukul 13.00-14.00; pengambilan ketiga (terakhir)sambil mengecek seluruh kandang dilakukan pada pukul 15.00-16.00.
8.2. Hasil Tambahan
Hasil tambahan yang dapat dinukmati dari hasil budidaya ayam petelur adalah daging dari ayam yang telah tua (afkir) dan kotoran yang dapat dijual untuk dijadikan pupuk kandang.
8.3. Pengumpulan
Telur yang telah dihasilkan diambil dan diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Dalam pengambilan dan pengumpulan telur, petugas pengambil harus langsung memisahkan antara telur yang normal dengan yang abnormal. Telur normal adalah telur yang oval, bersih dan kulitnya mulus serta beratnya 57,6 gram dengan volume sebesar 63 cc. Telur yang abnormal misalnya telurnya kecil atau terlalu besar, kulitnya retak atau keriting, bentuknya lonjong.
8.4. Pembersihan
Setelah telur dikumpulkan, selanjutnya telur yang kotor karena terkena litter atau tinja ayam dibershkan. Telur yang terkena litter dapat dibersihkan dengan amplas besi yang halus, dicuci secara khusus atau dengan cairan pembersih. Biasanya pembersihan dilakukan untuk telur tetas.
9. DAFTAR PUSTAKA
1. Muhammad Rasyaf, Dr.,Ir. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya (anggota IKAPI) Jakarta.
2. Cahyono, Bambang, Ir.1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama Yogyakarta.